Beluntas (Pluchea indica Less.) merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional. Daun beluntas memiliki aktivitas antimikroba terhadap berbagai macam bakteri. Tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman pagar di halaman rumah penduduk. Pada masyarakat daun beluntas secara tradisional berkhasiat sebagai penurun demam (antipiretik), meningkatkan nafsu makan (stomakik), peluruh keringat (diaforetik), dan penyegar (Dalimartha, 1999). Sifat antimikroba daun beluntas telah dilaporkan oleh Purnomo (2001) dan Sumitro (2002).
Beluntas adalah suatu tanaman obat tradisional Indonesia. Tanaman ini memiliki habitat perdu dengan tinggi 1-1,5 m. Batangnya berkayu, bulat, tegak, bercabang, bila masih muda berwarna ungu setelah tua putih kotor. Daunnya tunggal, berbentuk bulat telur, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, berbulu halus, panjang 3,8-6,4 cm, lebar 2-4 cm, pertulangan menyirip, warna hijau muda hingga hijau. Bunganya majemuk, mahkota lepas, putik bentuk jarum, panjang ± 6 mm, berwarna hitam kecoklatan, kepala sari berwarna ungu, memiliki dua kepala putik yang berwarna putih atau putih kekuningan. Akar beluntas merupakan akar tunggang dan bercabang (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
Berkhasiatnya daun beluntas diduga diperoleh dari beberapa kandungan kimia seperti alkaloid, minyak atsiri, dan flavonoid (Hariana, 2006). Menurut Purnomo (2001) flavonoid dalam daun beluntas memiliki aktifitas antibakteri terhadap Staphylococcus sp, Propionobacterium sp dan Corynebacterium. Di dalam flavonoid mengandung suatu senyawa fenol. Fenol merupakan suatu alkohol yang bersifat asam sehingga disebut juga asam karbolat. Pertumbuhan bakteri Escherichia coli dapat terganggu disebabkan adanya suatu senyawa fenol yang terkandung dalam ekstrak etanol daunbeluntas. Kondisi asam oleh adanya fenol dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri Esherichia coli. Kandungan minyak atsiri dari daun beluntas mengandung benzil alkohol, benzil asetat, eugenol dan linolol (Rasmehuli, 1986). Menurut Hasballah, dkk (2005) kandungan minyak atsiri daun sirih terbukti menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies pada gigi.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri antara lain zat makanan, konsentrasi ion hidrogen (pH), suhu, dan penganginan (Jawetz et al., 1996). Pada pH rendah merupakan salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme penghasil asam tetapi tidak toleran terhadap asam seperti, Lactobasillus, Eterobacteriaceae dan beberapa Pseudomonas (Schlegel, 1993)
Berdasarkan kunci determinasi tumbuhan beluntas dikelompokan seperti di bawah ini :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Divisi : Spermathophyta
Divisi : Spermathophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Famili : Asterales
Ordo : Asteraceae
Genus : Pluchea
Spesies : Pluchea indica Less.
(Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
Deskripsi
Perdu kecil, tumbuh tegak, tinggi bisa mencapai 2 m. Batang berambut halus. Daun bulat telur, hijau muda, panjang 2 – 9 cm, ujung lancip, letak berseling, berbau khas. Bunga majemuk, bentuk malai, keluar dari ketiak daun, bercabang-cabang, warna putih kekuningan. Buah kecil, keras, warna coklat, biji coklat keputih-putihan. Perbanyaan dengan biji atau stek.
Habitat: Banyak dijumpai sebagai tanaman pagar yang dapat tumbuh baik sampai ketinggian 800 m dpl
Bagian tanaman yang digunakan: Daun
Kandungan kimia: Alkaloid; Minyak atsiri
Khasiat: Diaforetik; Analgesik; Stomakik
DAFTAR PUSTAKA
Ardiansyah, L. Nuraida dan N. Andarwulan. 2002. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica Less.). Prosiding Seminar Tahunan PATPI. Malang
Dalimartha, S. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Trubus Agriwidya. Jakarta
Hariana, A. 2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Seri 1. Penebar Swadaya. Jakarta.
Jawetz, Melnick, dan Adelberg. 1995. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Purnomo, M. 2001. Isolasi Flavonoid dari Daun Beluntas (Pluchea indica Less) yang Mempunyai Aktivitas Antimikroba Terhadap Penyebab Bau Keringat Secara Bioutografi [Thesis]. Universitas Airlangga. Surabaya
Schlegel, G. Hans. 1993. Seventh Edition. General Microbiology. Cambridge University
Sumitro. 2002. Pengaruh Pemberian Perasan Daun Beluntas (Pluchea indica Less) Terhadap Pertumbuhan Kuman Staphilococcus aureus Secara In Vitro [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya
Syamsuhidayat, S. S. dan J. R. Hutapea. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Wijayakusuma, H. 1994. Tanaman berkhasiat Obat di Indonesia. Jilid I. Pustaka Kartini. Jakarta
(Penulis : Ahmad Ridlo)
No comments:
Post a Comment