Monday, October 6, 2014

DATA BASE JAMU (bagian 6)

Posted on January 1, 2012 by mahasiswa
Deskripsi Tanaman Sarang Semut
Tumbuhan Sarang Semut merupakan anggota dari Famili Rubiaceae dengan 5 genus dan hanya 2 genus yang berasosiasi dengan semut yaitu Myrmecodia (45 spesies) dan Hydnophytum (26 spesies). Di Sumatra, tumbuhan sarang semut disebut dengan rumah semut, di Jawa dikenal dengan nama Ulek-ulek Polo, di Papua (lokon, suhendep, nongon), di Malaysia (periok hantu, peruntak, sembuku), di Vietnam (ki nan, ki nam gai, ki nam kin). Terdapat dua jenis tumbuhan sarang semut yang mempunyai manfaat sebagai tanaman obat yaitu jenis pertama adalah Myrmecodia dengan umbi berlabirin kecil dan memiliki duri di bagian luar umbi, sedangkan jenis kedua adalah Hydnophytum dengan umbi berlabirin besar dan tidak terdapat duri di bagian luar  umbi. Jenis Myrmecodia pertama dikenali sebagai tanaman obat dengan spesies bernama Myrmecodia pendans. Umbi tanaman ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1823. Umbinya bisa mencapai diameter 25cm dengan tinggi mencapai 45cm (Subroto dan Saputro, 2006).
Klasifikasi dari tumbuhan sarang semut (Hydnophytum formicarum Jack.) adalah sebagai berikut (Plantamor, 2011):
Kingdom    : Plantae
Divisi         : Magnoliophyta
Kelas         : Magnoliopsida
Ordo          : Rubiales
Famili        : Rubiaceae
Genus        : Hydnophytum
Spesies       : Hydnophytum formicarum Jack.
Kandungan Senyawa Aktif dalam Tanaman Sarang Semut
Subroto dan Saputro (2006) menyatakan bahwa kandungan zat berkhasiat dari tumbuhan sarang semut sebagai bahan obat tergantung pada tempat tumbuh dan usia tumbuhan. Tumbuhan sarang semut yang tumbuh liar di hutan mengandung lebih banyak zat aktif daripada yang ditanam di pot sebagai tanaman hias. Beberapa uji menunjukkan bahwa tumbuhan ini mengandung senyawa-senyawa kimia dari golongan flavonoid dan tanin.
Flavonoid merupakan golongan senyawa bahan alam dari senyawa fenolik yang banyak terdapat pada pigmen tumbuhan. Sebagian besar fungsi flavonoid dalam tubuh manusia adalah sebagai antioksidan yang baik untuk pencegahan kanker. Sedangkan tanin merupakan polifenol tanaman yang berasa pahit serta dapat mengikat dan mengendapkan protein. Umumnya tanin digunakan untuk aplikasi di bidang pengobatan, misalnya untuk pengobatan diare, hemostatik (menghentikan pendarahan), dan wasir.
Khasiat dan keguanaan tanaman sarang semut
Kandungan berbagai macam mineral pada tumbuhan sarang semut memiliki kegunaan antara lain membantu mengatasi berbagai macam penyakit/gangguan jantung, melancarkan haid dan mengobati keputihan, melancarkan peredaran darah, mengobati migrain, gangguan fungsi ginjal dan prostat, memulihkan kesegaran dan stamina tubuh, serta memulihkan gairah seksual. Selain itu, sarang semut telah diteliti dan diperoleh bukti bahwa tanaman ini berkhasiat untuk mengobati kanker (Subroto dan Saputro, 2006).
Hubungan Tumbuhan Sarang Semut terhadap Penekanan Penyakit
Beberapa uji menunjukkan bahwa tumbuhan sarang semut mengandung senyawa-senyawa kimia dari golongan flavonoid dan tanin. Berbagai senyawa aktif tersebut diduga dapat berperan sebagai imunomodulator. Imunomodulator merupakan suatu senyawa yang dapat memengaruhi sistem imun humoral maupun seluler. Terdapat dua tipe imunomodulator, yaitu imunostimulator (meningkatkan sistem imun) dan imunosupresor (menekan sistem imun). Menurut Lai (2002) menyatakan senyawa-senyawa yang mempunyai prospek cukup baik yang dapat meningkatkan aktivitas sistem imun biasanya dari golongan flavonoid, kurkumin, limonoid, vitamin C, vitamin E (tokoferol) dan katekin. Hasil test secara in vitro dari flavonoid golongan flavones dan flavonols telah menunjukkan adanya respon imun.
Cara pembuatan sediaan sarang semut
untuk membuat sediaan sarang semut dapat dilakukan dengan cara umbi segar dari jenis tumbuhan sarang semut (Hydnophytum formicarum)  dibersihkan dari kotoran-kotoran. Setelah dibersihkan, dilakukan pengupasan kulit umbi tersebut kemudian dipotong dengan ukuran tertentu sehingga didapatkan potongan-potongan kecil dari umbi sarang semut. Potongan-potongan kecil tersebut kemudian dikeringkan dengan menggunakan bantuan sinar matahari selama ±3-5 hari. Setelah dikeringkan dengan bantuan sinar matahari, umbi tersebut dikeringkan kembali dengan menggunakan oven pada suhu ±600C. Umbi yang telah kering, kemudian dihaluskan menggunakan bantuan blender. Setelah halus, dilakukan penyeragaman ukuran dengan menggunakan bantuan ayakan. setelah didapatkan bubuk sarang semut maka dapat diseduh dengan air hangat dann ditambahkan gula sama seperti halnya menyeduh teh.


DAFTAR PUSTAKA
Bertus92. 2011. Myrmecodia pendans. http:// bertus92.blogspot.com. Diakses tanggal 30 Mei 2011.
Lai, JH., 2002, Immunomodulatory effects and mechanisms of plant alkaloid tetrandrine in autoimmune diseases, Acta Pharmacol Sin, Dec; 23(12): 1093-1101
Plantamor. 2011. Hydnophytum formicarum. http://www.plantamor.com. Diakses tanggal 30Des 2011.
Subroto, M.A. dan H. Saputro. 2006. Gempur Penyakit dengan Sarang Semut. Penebar Swadaya. Jakarta.

Penulis : Anis F. Insani

No comments:

Post a Comment