Cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan tanaman rempah
yang sejak lama digunakan dalam industri rokok kretek, makanan, minuman dan
obat – obatan. Bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan tersebut
adalah bunga, tangkai bunga dan daun cengkeh.
Bunga cengkeh kering mengandung minyak atsiri, fixed oil
(lemak), resin, tannin, protein, cellulosa, pentosan dan mineral. Karbohidrat
terdapat dalam jumlah dua per tiga dari berat bunga. Komponen lain yang paling
banyak adalah minyak atsiri yang jumlahnya bervariasi tergantung dari banyak
faktor diantaranya jenis tanaman, tempat tumbuh dan cara pengolahan
(Purseglove, et al., 1981).
Di samping sebagai sumber bahan penyedap rasa alami, cengkeh
juga mengandung unsur-unsur nutrisi lain seperti : protein, vitamin dan
mineral. Cengkeh mengandung lemak, karbohidrat, dan “food energy” yang cukup tinggi.
Pemisahan kandungan kimia dari serbuk bunga, tangkai bunga dan
daun cengkeh menunjukan bahwa serbuk bunga dan daun cengkeh mengandung saponin,
tannin, alkaloid, glikosida dan flavonoid, sedangkan tangkai bunga cengkeh
mengandung saponin, tannin, glikosida dan flavonoid (Ferdinanti, 2001).
Minyak bunga cengkeh biasa digunakan untuk makanan, minuman dan
parfum, minyak tangkai cengkeh digunakan sebagai substitusi minyak bunga
cengkeh, dan minyak daun cengkeh digunakan sebagai bahan baku untuk isolasi
eugenol dan caryophyllen (Weiss, 1997). Eugenol disamping digunakan
sebagai bahan penambah aroma juga mempunyai sifat
antiseptik, karena itu bisa
digunakan dalam sabun, detergen, pasta gigi, parfum dan produk farmasi.
Minyak cengkeh dapat dipakai sebagai bahan aktif atau pembuatan obat
kumur karena sifatnya sebagai antibakteri. Hasil penelitian menunjukan bahwa
formula obat kumur yang dihasilkan dapat menghambat tumbuhnya bakteri Streptococcucs
mutans dan Streptococcus viridians yang dapat menyebabkan terjadinya
plaque gigi. Senyawa eugenol sebagai hasil isolasi dari minyak cengkeh sudah
biasa digunakan untuk obat sakit gigi dan bahan campuran untuk menambal gigi
(Nurdjannah et al., 2001). Penelitian lain menunjukan bahwa minyak cengkeh
dapat digunakan sebagai bahan aktif dalam antiseptic ruangan dalam bentuk
spray. Dalam bentuk tunggal maupun sebagai campuran dalam formula cairan
antiseptik dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella hypemerium dan
E. coli.
Berdasarkan hasil penelitian di Balittro (Balai Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat), daun, tangkai bunga, minyak cengkeh dan eugenol dapat
menekan pertumbuhan miselium jamur, koloni bakteri dan nematoda. Karena itu
produk cengkeh dapat digunakan sebagai fungisida, bakterisida, nematisida dan
insektisida. Sebagai antibiotic bakterisida eugenol dilaporkan sangat efektif
secara in – vitro terhadap beberapa bakteri antara lain : Bacillus subtilis,
Staphylococcus aureus dan Escherisia coli.
Eugenol
Eugenol (C10H12O2),
merupakan turunan guaiakol yang mendapat tambahan rantai alil, dikenal dengan
nama IUPAC 2-metoksi-4-(2-propenil) fenol. Eugenol dapat dikelompokkan dalam
keluarga alilbenzena dari senyawa-senyawa fenol yang mempunyai warna bening
hingga kuning pucat, kental seperti minyak. Sumber alaminya dari minyak
cengkeh. Terdapat pula pada pala, kulit manis, dan salam. Eugenol sedikit larut
dalam air namun mudah larut pada pelarut organik. Aromanya menyegarkan dan
pedas seperti bunga cengkeh kering, sehingga sering menjadi komponen untuk
menyegarkan mulut.
Kandungan
senyawa-senyawa dalam minyak cengkeh digolongkan dalam senyawa phenol (sebagai
eugenol) dan senyawa non eugenol. senyawa eugenol dapat digunakan sebagai
antioksidan yaitu senyawa kimia yang dapat menghambat proses otoksidasi lemak
tidak jenuh. Berdasarkan aktivitas dan efisiensi dalam menghambat proses
oksidasi maka urutan efisiensi anti-oksidan golongan phenol adalah sebagai
berikut :
Pirogallol >
hidroquinon > catechol > eugenol > thymol, α-naphtanol,
phloroglusinol, resorsinol, dan fenol. (Ketaren, 1986)
Cengkeh memiliki
beragam manfaat, tidak hanya sebagai penyedap makanan, tetapi juga untuk
mengobati berbagai macam penyakit. berikut beberapa manfaat cengkeh sebagai
tanaman obat (Kompas.com, 2011):
1. Mengatasi infeksi
pernapasan
Percaya atau tidak,
teh yang mengandung cengkeh dapat membantu Anda mengatasi infeksi pernapasan.
“Cengkeh bekerja sebagai ekspektoran, melonggarkan lendir di tenggorokan dan
kerongkongan,” ujar Neil Schachter, MD, seorang profesor dari Mount Sinai
School of Medicine di New York City.
Untuk mendapatkan
hasil maksimal, Dr Schachter pun memberikan cara penyajiannya: campurkan 2
batang cengkeh, selembar kayu manis, dan 2 biji kapulaga, lalu dihancurkan.
Setelah itu, tempatkan dalam sebuah cangkir, tambahkan air mendidih, dan
biarkan selama 1-2 menit.
2. Mengatasi noda
jerawat
Cornelia Zicu, seorang staf dari Elizabeth Arden Red Door Spas, mengatakan, cengkeh dapat dimanfaatkan untuk menghilangkan noda bekas jerawat berkat kadungan senyawa euganol (antiseptik alami yang menyeimbangkan kulit), serta mencegah timbulnya jerawat.
Cornelia Zicu, seorang staf dari Elizabeth Arden Red Door Spas, mengatakan, cengkeh dapat dimanfaatkan untuk menghilangkan noda bekas jerawat berkat kadungan senyawa euganol (antiseptik alami yang menyeimbangkan kulit), serta mencegah timbulnya jerawat.
Cara penggunaannya:
campurkan 1 sendok teh cengkeh tanah, 1 sendok teh madu, dan 3 tetes jus lemon
segar dalam mangkuk kecil. Setelah itu, oleskan ke seluruh wajah Anda dan
biarkan selama 20 menit, lalu bilas dengan air dingin untuk mendapatkan hasil
terbaik.
DAFTAR PUSTAKA
Ferdinanti, E, 2001. Uji aktivitas antibakteri obat kumur minyak cengkeh (Syzygium aromaticum) asal bunga, tangkai bunga, dan daun cengkeh terhadap bakteri. Skripsi S1 jurusan farmasi. Fakultas Matematika dan dan Pengetahuan Alam. Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta.
Ketaren, 1986, “Minyak dan Lemak Pangan”, 1st ed., Universitas Indonesia, Jakarta.
Kompas, 2011, Cara Cerdas Memanfaatkan Cengkeh, Kompas.com. tanggal akses 30 Desember 2011
Nurdjannah, N., Supriadi. E. Ferdinanti and B. Logawa, 2001. Antibacterial activity of gargle solution containing clove oils. Proceeding International Seminar on Natural Product Chemistry and Utilization of Natural Resources. Universitas Indonesia, Depok, Indonesia.
Purseglove, J.W, E B. Brown, C. L green and S. R. J. Robbins. 1981. Spices. Vol I. Longman, London and New York.
Weiss, E.A, 1997. Essential Oil Crops. CAB International, Wallingford Oxon, United Kingdom.
Penulis : Johan Aloysius
No comments:
Post a Comment