Mangga (Mangifera indica) merupakan salah satu tumbuhan yang berasal di
daerah Asia tropis dan kini banyak dibudidayakan di
hampir semua belahan dunia. Indonesia merupakan salah satu daerah
endemik bagi mangga. Diversitas mangga yang cukup tinggi
dapat dijadikan bukti bahwa tumbuhan ini memang merupakan
tumbuhan asli Indonesia. Daerah yang memiliki diversitas
mangga cukup tinggi ialah Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan (Bompard
dan Schneel, 1997).
Mangga termasuk tumbuhan yang digemari oleh kebanyakan orang, terutama karena
buahnya. Hampir
semua orang senang mengkonsumsi buah ini. Hanya saja,
tidak banyak yang memanfaatkan buah maupun
bagian lain dari tumbuhan mangga ini sebagai obat,
terutama di
Indonesia yang merupakan daerah asal tanaman ini.
Padahal potensi obat yang terkandung di dalamnya cukup besar.
Menurut Wauthoz, dkk, 2007, ada beberapa negara yang
menggunakan kulit kayu maupun bagian lain dari tanaman mangga
sebagai obat-obatan. Negara-negara tersebut antara lain,
Brazil, Kuba, Gabon, Senegal, Haiti, Republik Afrika, India
dan negara negara lain di Afrika.
Data ini menunjukkan
bahwa di Indonesia potensi obat
dari tanaman mangga ini masih belum terlalu diperhatikan.
Padahal, sebagai negara dengan diversitas mangga yang cukup besar,
Indonesia memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan tanaman ini sebagai
salah satu bahan penyusun obat-obatan herbal.
Organ-organ dari tumbuhan mangga mengandung berbagai macam jenis senyawa kimia.
Beberapa senyawa kimia tersebut merupakan zat metabolit sekunder yang memiliki fungsi
berbeda dibandingkan dengan senyawa metabolit primer. Senyawa kimia yang dapat
ditemukan
pada tumbuhan mangga antara lain adalah polifenol,
terpenoid, steroid, asam lemak, berbagai macam
mikroelemen seperti vitamin dan suatu jenis senyawa
yang dikenal dengan mangiferin. Senyawa ini dapat ditemukan
pada daun, buah, kulit kayu dan akar tanaman mangga. Jika
dilakukan ekstraksi, maka 20%
dari ekstrak tersebut ialah
mangiferin. Salah satu hal yang menyebabkan tanaman ini
berpotensi sebagai obat-obatan ialah adanya senyawa kimia
yang disebut dengan mangiferin
tersebut (Dhananjaya, dkk, 2010).
Mangiferin memiliki nama ilmiah C-glucoside xanthone mangiferin atau dapat ditulis 2-C-β-Dgluco-pyranosyl-1,3,6,7-tetrahydroxyxanthone.
Senyawa ini merupakan senyawa fenolik yang biasanya terbentuk melalui
jalur shikimat maupun jalur ketat. Berat molekul dari
senyawa ini ialah sekitar 422.35 dengan titik lelehnya
sekitar 271°C. Senyawa ini memenuhi syarat
utama yang harus dipenuhi suatu senyawa agar
bisa dikonsumsi, yaitu berat molekul yang kurang
dari 500 dalton, memiliki donor hidrogen kurang dari 5 untuk
ikatan karbon, dan memiliki akseptor hidrogen kurang
dari 10 untuk membentuk ikatan
karbon (Wauthoz, dkk, 2007). Berikut adalah gambar struktur kimia dari mangiferin
Mangiferin yang terkandung pada tanaman mangga inilah yang
merupakan salah satu senyawa
bioaktif yang memiliki beragam fungsi bagi tubuh manusia.
Tetapi, adanya senyawa-senyawa aktif lain selain mangiferin juga
dapat meningkatkan kegunaan dari ekstrak tumbuhan
mangga tersebut. Fungsi-fungsi tersebut antara lain:
· Antioksidan; mangiferin ini memiliki kemampuan yang mampu
menjinakkan atau menangkap reactive oxygen species (ROS)
dalam sel atau jaringan. ROS inilah yang dapat memicu
terjadinya penyakit atau kelainan
pada sel dan jaringan
· Radioprotective; menurut
Jagetia dan Vankatesha (2005) mangiferin memiliki potensi untuk
melindungi mikronukleus
di dalam sel agar tidak rusak akibat terkena radioaktif
· Anti alergi; mangiferin memiliki potensi
sebagai anti alergi. Hal ini dibuktikan bahwa pada tikus,
mangiferin mampu
mengurangi IgE level pada ovalbumin, menghambat reaksi
anafilatik pasif, menghambat proliferasi
sel akibat respon terhadap ovalbumin (Rivera, dkk, 2006).
· Anti diabetes; berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yogisha
dan Raveesha (2010),
diketahui bahwa ekstrak metanolik dari daun mangga memiliki aktivitas yang cukup
tinggi
dalam menghambat enzim Dipeptidyl Peptidase IV (DPP 4), suatu enzim yang berperan
dalam
regulasi hormon insulinotropic, Glucagon Like Peptide 1 (GLP 1). GLP 1 merupakan
salah satu jenis hormon yang digunakan untuk terapi diabetes mellitus 2. GLP 1 ini
merupakan salah
satu substrat bagi enzim DPP 4. Enzim ini
akan mengubah GLP 1 ke dalam bentuk yang
tidak aktif. Sehingga penghambatan terhadap enzim DPP 4 akan
meningkatkan aktivitas GLP 1 dalam tubuh.
· Anti mikroba; menurut Wauthoz, dkk, 2007, mangiferin
memiliki aktivitas anti jamur, anti bakteri dan anti
virus yang cukup tinggi. Hal ini juga dibuktikan
pada penelitian yang dilakukan oleh Abubakar
(2009) mengenai kemampuan antimikrobia dari ekstrak kulit
batang dari tumbuhan mangga terhadap bakteri-bakteri yang
menginfeksi saluran pencernaan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa
ekstrak kulit kayu dari tumbuhan
mangga yang digunakan sebagian besar mengandung
alcohol, air dan
hexane. Ekstrak dari kulit kayu tersebut memiliki aktivitas
yang cukup tinggi dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli,
Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia
dan Streptococcus pneumonia.
· Anti venom; menurut Dhananjaya, dkk, 2011, kulit batang dari M.indica memiliki potensi
sebagai anti venom terhadap racun ular derik Daboia russellii.
Dabolia russellii merupakan
suatu spesies ular berbisa yang memiliki tingkat
toksisitas venom cukup
tinggi. Di daerah India, sekitar tahun 1999, ada
sebanyak 35.000-50.000 orang yang meninggal per tahun akibat racun ular tersebut.
Meskipun telah ditemukan antivenom untuk ular ini, penggunaan antivenom tersebut masih belum efektif.
Hal ini dikarenakan
tingginya harga anti venom tersebut serta kekurangefektifan anti venom dalam mengatasi
akibat-akibat lain yang ditimbulkan oleh gigitan ular tersebut.
Terlebih lagi, sebagian besar masyarakat India yang menderita
gigitan ular tersebut merupakan orang pedesaan yang
terlalu
sulit untuk memperoleh antivenom tersebut. Pada pengobatan
tradisional yang dilakukan oleh masyarakat India,
kulit kayu dari tumbuhan mangga biasa digunakan untuk anti racun terhadap
gigitan ular tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Dhananjaya, dkk (2011), ekstrak dari kulit kayu
tumbuhan mangga mampu menghambat aktivitas enzim
metalloprotease dan serine protease yang ada
pada racun ular tersebut. Terhambatnya aktivitas kedua
enzim tersebut akan mengurangi terjadinya hemorraghe
(pemecahan pembuluh darah) serta terjadinya fibrinogenolitik
(pecahnya fibrinogen). Selain itu, penggunaan ekstrak pada
mencit yang diinjeksi dengan venom dari ular Daboia russellii
terbukti meningkatkan daya hidup dari mencit tersebut.
Daftar Pustaka
Abubakar, E. M. 2009. Antibacterial efficacy of stem bark extracts of Mangifera indica against some bacteria associated with respiratory tract infections. Scientific Research and Essay Vol.4 (10), pp. 1031-1037.
Bompard J.M., R. J. Schnell. 1997. Taxonomy and Systematics. In: Litz R (Ed) The Mango, CAB International, New York, USA, pp 21-47.
Dhananjaya, B. L., F. Zameer, K. S. Girish, C. J. M. D. Souza. 2011. Anti Venom Potential of Aquaeous Extract of Stem Bark Mangifera indica L. against Daboia russellii (Russel’s viper) Venom. Indian Journal of Biochemistry and Biophysics (48): 175-183.
Jagetia G.C., V. A. Venkatesha. 2005. Mangiferin, a glucosylxanthone, protects against the radiation induced micronuclei formation in the cultured human peripheral blood lymphocytes. International Congress Series 1276, 195-196.
Muruganandan S., S. Gupta, M. Kataria, J. Lal , P.K. Gupta. 2002. Mangiferin protects the streptozotocin induced oxidative damage to cardiac and renal tissues in rats. Toxicology 176, 165-173.
Wauthoz, N., A. Balde, E. S. Balde, M. Van Damme, P. Duez. 2007. Ethnopharmacology of Mangifera indica L. Bark and Pharmacological Studies of its Main C-Glucosylxanthone, Mangiferin. International Journal of Biomedical and Pharmaceutical Sciences 1 (2):112-119.
Rivera D.G., I. H. Balmaseda, A.A. Leon , B. C. Hernandez , L. M. Montiel, G. G. Garrido, S. Cuzzocrea, R. D. Hernandez. 2006. Anti-allergic properties of Mangifera indica L. extract (Vimang) and contribution of its glucosylxanthone mangiferin. Journal of Pharmacy and Pharmacology 58, 385-392.
Yogisha, S. dan K. A. Raveesha. 2010. Dipeptidyl Peptidase IV inhibitory activity of Mangifera indica. Journal of Natural Products, Vol. 3(2010):76-79.
(Penulis : Rikza Hakin)
No comments:
Post a Comment