Tuesday, October 7, 2014

DATA BASE JAMU (bagian 7)

Mangga (Mangifera indica) merupakan salah satu tumbuhan yang berasal di daerah Asia tropis dan kini banyak dibudidayakan di hampir semua belahan dunia. Indonesia merupakan salah satu daerah endemik bagi mangga. Diversitas mangga yang cukup tinggi dapat dijadikan bukti bahwa tumbuhan ini memang merupakan tumbuhan asli Indonesia.  Daerah yang memiliki diversitas mangga cukup tinggi ialah Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan (Bompard dan Schneel, 1997).
Mangga termasuk tumbuhan yang digemari oleh kebanyakan orang, terutama karena buahnya. Hampir semua orang senang mengkonsumsi buah ini. Hanya saja, tidak banyak yang memanfaatkan buah maupun bagian lain dari tumbuhan mangga ini sebagai obat, terutama di Indonesia yang merupakan daerah asal tanaman ini. Padahal potensi obat yang terkandung di dalamnya cukup besar. Menurut Wauthoz, dkk, 2007, ada beberapa negara yang  menggunakan kulit kayu maupun bagian lain dari tanaman mangga sebagai obat-obatan. Negara-negara tersebut antara lain, Brazil, Kuba, Gabon, Senegal, Haiti, Republik Afrika, India dan negara negara lain di Afrika. Data ini menunjukkan
bahwa di Indonesia potensi obat dari tanaman mangga ini masih belum terlalu diperhatikan. Padahal, sebagai negara dengan diversitas mangga yang cukup besar, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan tanaman ini sebagai salah satu bahan penyusun obat-obatan herbal.
Organ-organ dari tumbuhan mangga mengandung berbagai macam jenis senyawa kimia. Beberapa senyawa kimia tersebut merupakan zat metabolit sekunder yang memiliki fungsi berbeda dibandingkan dengan senyawa metabolit primer. Senyawa kimia yang dapat ditemukan pada tumbuhan mangga antara lain adalah polifenol, terpenoid, steroid, asam lemak, berbagai macam mikroelemen seperti vitamin dan suatu jenis senyawa yang dikenal dengan mangiferin. Senyawa ini dapat ditemukan pada daun, buah, kulit kayu dan akar tanaman mangga. Jika dilakukan ekstraksi, maka 20% dari ekstrak tersebut ialah mangiferin. Salah satu hal yang menyebabkan tanaman ini berpotensi sebagai obat-obatan ialah adanya senyawa kimia yang disebut dengan mangiferin tersebut (Dhananjaya, dkk, 2010).
Mangiferin memiliki nama ilmiah C-glucoside xanthone mangiferin atau dapat ditulis 2-C-β-Dgluco-pyranosyl-1,3,6,7-tetrahydroxyxanthone. Senyawa ini merupakan senyawa fenolik yang biasanya terbentuk melalui jalur shikimat maupun jalur ketat.  Berat molekul dari senyawa ini ialah sekitar 422.35 dengan titik lelehnya sekitar 271°C. Senyawa ini memenuhi syarat utama yang harus dipenuhi suatu senyawa agar bisa dikonsumsi, yaitu berat  molekul yang kurang dari 500 dalton, memiliki donor hidrogen kurang dari 5 untuk ikatan karbon, dan memiliki akseptor hidrogen kurang dari 10 untuk membentuk ikatan karbon (Wauthoz, dkk, 2007). Berikut adalah gambar struktur kimia dari mangiferin
Mangiferin yang terkandung pada tanaman mangga inilah yang merupakan salah satu senyawa  bioaktif yang memiliki beragam fungsi bagi tubuh manusia. Tetapi, adanya senyawa-senyawa aktif lain selain mangiferin juga dapat meningkatkan kegunaan dari ekstrak tumbuhan mangga tersebut. Fungsi-fungsi tersebut antara lain:
· Antioksidan; mangiferin ini memiliki kemampuan yang mampu menjinakkan atau menangkap reactive oxygen species (ROS) dalam sel atau jaringan. ROS inilah yang dapat memicu terjadinya penyakit atau kelainan pada sel dan jaringan
· Radioprotective; menurut Jagetia dan Vankatesha (2005) mangiferin memiliki potensi untuk melindungi mikronukleus di dalam sel agar tidak rusak akibat terkena  radioaktif
· Anti alergi; mangiferin memiliki potensi sebagai anti alergi. Hal ini dibuktikan bahwa pada tikus, mangiferin mampu mengurangi IgE level pada ovalbumin, menghambat reaksi anafilatik pasif, menghambat proliferasi sel akibat respon terhadap ovalbumin (Rivera, dkk, 2006).
· Anti diabetes; berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yogisha dan Raveesha (2010), diketahui bahwa ekstrak metanolik dari daun mangga memiliki aktivitas yang cukup tinggi dalam menghambat enzim Dipeptidyl Peptidase IV (DPP 4), suatu enzim yang berperan dalam regulasi hormon insulinotropic, Glucagon Like Peptide 1 (GLP 1). GLP 1 merupakan salah satu jenis hormon yang digunakan untuk terapi diabetes mellitus 2. GLP 1 ini merupakan salah satu substrat bagi enzim DPP 4. Enzim ini akan mengubah GLP 1 ke dalam bentuk yang tidak aktif. Sehingga penghambatan terhadap enzim DPP 4 akan meningkatkan aktivitas GLP 1 dalam tubuh.
· Anti mikroba; menurut Wauthoz, dkk, 2007, mangiferin memiliki aktivitas anti jamur, anti bakteri dan anti virus yang cukup tinggi. Hal ini juga dibuktikan pada penelitian yang dilakukan oleh Abubakar (2009) mengenai kemampuan antimikrobia dari ekstrak kulit batang dari tumbuhan mangga terhadap bakteri-bakteri yang menginfeksi saluran pencernaan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak kulit kayu dari tumbuhan mangga yang digunakan sebagian besar mengandung alcohol, air dan hexane. Ekstrak dari kulit kayu tersebut memiliki aktivitas yang cukup tinggi dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia dan Streptococcus pneumonia.
· Anti venom; menurut Dhananjaya, dkk, 2011, kulit batang dari M.indica memiliki potensi sebagai anti venom terhadap racun ular derik Daboia russellii. Dabolia russellii merupakan suatu spesies ular berbisa yang memiliki tingkat toksisitas venom cukup tinggi. Di daerah India, sekitar tahun 1999, ada sebanyak 35.000-50.000 orang yang meninggal per tahun akibat racun ular tersebut. Meskipun telah ditemukan antivenom untuk ular ini, penggunaan antivenom tersebut masih belum efektif. Hal ini dikarenakan tingginya harga anti venom tersebut serta kekurangefektifan anti venom dalam mengatasi akibat-akibat lain yang ditimbulkan oleh gigitan ular tersebut. Terlebih lagi, sebagian besar masyarakat India yang menderita gigitan ular tersebut merupakan orang pedesaan yang terlalu sulit untuk memperoleh antivenom tersebut. Pada pengobatan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat India, kulit kayu dari tumbuhan mangga biasa digunakan untuk anti racun terhadap gigitan ular tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dhananjaya, dkk (2011), ekstrak dari kulit kayu tumbuhan mangga mampu menghambat aktivitas enzim metalloprotease dan serine protease yang ada pada racun ular tersebut. Terhambatnya aktivitas kedua enzim tersebut akan mengurangi terjadinya hemorraghe (pemecahan pembuluh darah) serta terjadinya fibrinogenolitik (pecahnya fibrinogen). Selain itu, penggunaan ekstrak pada mencit yang diinjeksi dengan venom dari ular Daboia russellii terbukti meningkatkan daya hidup dari mencit tersebut.


Daftar Pustaka
Abubakar, E. M. 2009. Antibacterial efficacy of stem bark extracts of Mangifera indica against some bacteria associated with respiratory tract infections. Scientific Research and Essay Vol.4 (10), pp. 1031-1037.
Bompard J.M., R. J. Schnell. 1997. Taxonomy and Systematics. In: Litz R (Ed) The Mango, CAB International, New York, USA, pp 21-47.
Dhananjaya, B. L., F. Zameer, K. S. Girish, C. J. M. D. Souza. 2011. Anti Venom Potential of Aquaeous Extract of Stem Bark Mangifera indica L. against Daboia russellii (Russel’s viper) Venom. Indian Journal of Biochemistry and Biophysics (48): 175-183.
Jagetia G.C., V. A. Venkatesha. 2005. Mangiferin, a glucosylxanthone, protects against the radiation induced micronuclei formation in the cultured human peripheral blood lymphocytes. International Congress Series 1276, 195-196.
Muruganandan S., S. Gupta, M. Kataria, J. Lal , P.K. Gupta. 2002. Mangiferin protects the streptozotocin induced oxidative damage to cardiac and renal tissues in rats. Toxicology 176, 165-173.
Wauthoz, N., A. Balde, E. S. Balde, M. Van Damme, P. Duez. 2007. Ethnopharmacology of Mangifera indica L. Bark and Pharmacological Studies of its Main C-Glucosylxanthone, Mangiferin. International Journal of Biomedical and Pharmaceutical Sciences 1 (2):112-119.
Rivera D.G., I. H. Balmaseda, A.A. Leon , B. C. Hernandez , L. M. Montiel, G. G. Garrido, S. Cuzzocrea, R. D. Hernandez. 2006. Anti-allergic properties of Mangifera indica L. extract (Vimang) and contribution of its glucosylxanthone mangiferin. Journal of Pharmacy and Pharmacology 58, 385-392.
Yogisha, S. dan K. A. Raveesha. 2010. Dipeptidyl Peptidase IV inhibitory activity of Mangifera indica. Journal of Natural Products, Vol. 3(2010):76-79.

(Penulis : Rikza Hakin)

No comments:

Post a Comment