
Pengertian Bisa
Bisa, venom,
atau zootoksin (secara harfiah
"racun hewan") adalah semua jenis toksin yang yang digunakan oleh beberapa kelompok spesies hewan, untuk keperluan pertahanan dan berburu mangsa. Bisa dibedakan dengan racun dengan definisi bahwa bisa adalah toksin biologis yang
disuntikkan untuk menimbulkan efeknya, sedangkan racun adalah toksin biologis
yang diserap melalui lapisan epitel (baik dari usus maupun melalui kulit). Hewan-hewan yang memiliki bisa antara lain adalah ular, laba-laba, kalajengking, dan lebah. Bisa ular umumnya mengandung fosfolipase
A2, sejenis enzim yang memicu proses lisis pada senyawa fosfolipid, sehingga
bersifat toksik terhadap membran sel.
Bisa adalah suatu zat atau substansi
yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem
pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang
dihasilkan oleh kelenjar khusus. Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan
suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak di setiap bagian bawah
sisi kepala di belakang mata. Dalam
paper ini kami akan menjelaskan tentang bisa ular. Bisa
ular tidak hanya terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi merupakan campuran
kompleks, terutama protein, yang memiliki aktivitas enzimatik. Bisa ular dapat mengakibatkan orang meninggal oleh karena
bisa ular yang bersifat hematotoksik, neurotoksik atau histaminic.
Kategori bisa ular
Bisa ular secara garis besar dapat kita
kategorikan dalam dua jenis, yaitu neurotoxin dan hemotoxin. Neurotoxin adalah
racun yang melumpuhkan sistem pernafasan dan merusak otak korban. Adapun
hemotoxin adalah racun yang merusak sel-sel hingga darah menggumpal dan
berujung pada kematian. Bisa ular juga mengandung berbagai enzim berbahaya,
namun bisa pula sangat berguna. Sedikitnya terdapat 20 jenis enzim pada bisa
ular. Komposisi masing-masing enzim berbeda-beda, tergantung jenis ularnya.
Salah satu enzim yang terdapat dalam bisa ular adalah proteinase. Gigitan ular
yang mengeluarkan bisa yang mengandung proteinase akan menyebabkan jaringan
kulit dan otot si korban mati secara cepat. Tapi, menurut sebuah penelitian di
Australia, dalam dosis tertentu enzim proteinase dapat mengobati kanker. Enzim
lain yang cukup populer ada pada bisa ular adalah cholin esterase. Enzim ini
biasanya menyerang sistem saraf dan membuat otot menjadi kendur. Enzim cholin
esterase dapat digunakan untuk mencegah serangan jantung dan stroke.
Racun
Racun
adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara yang
menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan
kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan sering dihubungkan dengan pangan
atau bahan kimia. Pada kenyataannya bukan hanya pangan atau bahan kimia saja
yang dapat menyebabkan keracunan. Di sekeliling kita ada racun alam yang
terdapat pada beberapa tumbuhan dan hewan. Salah satunya adalah gigitan ular
berbisa yang sering terjadi di daerah tropis dan subtropis. Mengingat masih
sering terjadi keracunan akibat gigitan ular maka untuk dapat menambah
pengetahuan masyarakat kami menyampaikan informasi mengenai bahaya dan
pertolongan terhadap gigitan ular berbisa. Ular merupakan jenis hewan melata
yang banyak terdapat di Indonesia. Spesies ular dapat dibedakan atas ular
berbisa dan ular tidak berbisa. Ular berbisa memiliki sepasang taring pada
bagian rahang atas. Pada taring tersebut terdapat saluran bisa untuk menginjeksikan
bisa ke dalam tubuh mangsanya secara subkutan atau intramuskular.
Penelitian
Tentang Bisa Ular
Norbert
Zimmermann, seorang ahli pengobatan dari Bottrop Jerman, melakukan riset
terhadap bisa ular untuk mengobati alergi. Caranya, memasukkan alergen yang ada
dalam bisa ular ke dalam tubuh pasien secara bertahap dalam dosis ringan. Lalu,
dosisnya akan terus dinaikkan hingga tubuh pasien menciptakan kekebalan atau
antibodi terhadap zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuhnya. Cara ini akan
meningkatkan kekebalan dalam tubuh. Di Indonesia, belum ada penelitian tentang
manfaat serum atau organ ular lainnya bagi pengobatan. Sejauh ini, maraknya
pengobatan dengan menggunakan organ ular lebih kepada pengalaman saja.
Misalnya, pengobatan yang dilakukan sinse Robert yang buka praktek di
Yogyakarta. Sejak umur 8 tahun, dia sudah hidup beradaptasi dengan ular.
Sepanjang pengalamannya, ia mengetahui empedu ular kobra punya banyak kegunaan.
“Misalnya meredakan panas, membuat kulit menjadi bagus, jantung menjadi kuat,
paru-paru menjadi bagus,” ujarnya. Prinsip pengobatan memakai organ ular adalah
melawan penyakit dengan menggunakan zat berbahaya. Tapi ada juga yang
berpendaat lain. Salah satunya, William Adi Teja, ahli pengobatan di Oetomo
Chinese Medical Centre. Menurut master dari Beijing University of Chinese
Medicine itu, dalam teori Chinese Medicine, penyakit berbahaya memang bisa
disembuhkan dengan racun. “Tetapi jangan ditelan mentah-mentah. Bagaimana racun
berbahaya itu diramu sehingga menjadi obat, dan berapa dosisnya, itu yang belum
diketahui secara pasti ilmunya,” ujarnya.
Penatalaksanaan
Keracunan akibat Gigitan Ular Berbisa
Efek toksik bisa ular pada saat
menggigit mangsanya tergantung pada spesies, ukuran ular, jenis kelamin, usia,
dan efisiensi mekanik gigitan (apakah hanya satu atau kedua taring menusuk
kulit), serta banyaknya serangan yang terjadi.
Ular berbisa kebanyakan termasuk
dalam famili Colubridae, tetapi pada umumnya bisa yang dihasilkannya bersifat
lemah. Contoh ular yang termasuk famili ini adalah ular sapi (Zaocys
carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular jali
(Ptyas korros), dan ular serasah (Sibynophis geminatus). Ular
berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae,
Hydropiidae, atau Viperidae. Elapidae memiliki taring pendek dan tegak
permanen. Beberapa contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora
intestinalis), ular weling (Bungarus candidus), ular sendok (Naja
sumatrana), dan ular king kobra (Ophiophagus hannah). Viperidae
memiliki taring panjang yang secara normal dapat dilipat ke bagian rahang atas,
tetapi dapat ditegakkan bila sedang menyerang mangsanya. Ada dua subfamili pada
Viperidae, yaitu Viperinae dan Crotalinae. Crotalinae memiliki organ untuk
mendeteksi mangsa berdarah panas (pit organ), yang terletak di antara
lubang hidung dan mata. Beberapa contoh Viperidae adalah ular bandotan (Vipera
russelli), ular tanah
(Calloselasma
rhodostoma), dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris).
Gambar
1. Organ pendeteksi panas (pit organ) pada Crotalinae terletak di antara
lubang hidung dan mata.
Bagaimanakah Gigitan Ular Dapat
Terjadi?
Korban
gigitan ular terutama adalah petani, pekerja perkebunan, nelayan, pawang ular,
pemburu, dan penangkap ular. Kebanyakan gigitan ular terjadi ketika orang tidak
mengenakan alas kaki atau hanya memakai sandal dan menginjak ular secara tidak sengaja.
Gigitan ular juga dapat terjadi pada penghuni rumah, ketika ular memasuki rumah
untuk mencari mangsa berupa ular lain, cicak, katak, atau tikus.
Bersambung....
Iklanku :
Tips mengamankan akun facebook dari hakcer plus banjir
uang...
atau
Beli produk kesehatan dapat bonus uang..
coba aja klik :

No comments:
Post a Comment