Wednesday, October 8, 2014

DATA BASE JAMU (bagian 8)

Posted on December 17, 2011 by mahasiswa
Beluntas (Pluchea indica Less.) merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional. Daun beluntas memiliki aktivitas antimikroba terhadap berbagai macam bakteri. Tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman pagar di halaman rumah penduduk. Pada masyarakat daun beluntas secara tradisional berkhasiat sebagai penurun demam (antipiretik)meningkatkan nafsu makan (stomakik)peluruh keringat (diaforetik)dan penyegar (Dalimartha, 1999). Sifat antimikroba daun beluntas telah dilaporkan oleh Purnomo (2001) dan Sumitro (2002).
Beluntas adalah suatu tanaman obat tradisional Indonesia. Tanaman ini memiliki habitat perdu dengan tinggi 1-1,5 m. Batangnya berkayu, bulat, tegak, bercabang, bila masih muda berwarna ungu setelah tua putih kotor. Daunnya tunggal, berbentuk bulat telur, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, berbulu halus, panjang 3,8-6,4 cm, lebar 2-4 cm, pertulangan menyirip, warna hijau muda hingga hijau. Bunganya majemuk, mahkota lepas, putik bentuk jarum, panjang ± 6 mm, berwarna hitam kecoklatan, kepala sari berwarna ungu, memiliki dua kepala putik yang berwarna putih atau putih kekuningan. Akar beluntas merupakan akar tunggang dan bercabang (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).

Tuesday, October 7, 2014

DATA BASE JAMU (bagian 7)

Mangga (Mangifera indica) merupakan salah satu tumbuhan yang berasal di daerah Asia tropis dan kini banyak dibudidayakan di hampir semua belahan dunia. Indonesia merupakan salah satu daerah endemik bagi mangga. Diversitas mangga yang cukup tinggi dapat dijadikan bukti bahwa tumbuhan ini memang merupakan tumbuhan asli Indonesia.  Daerah yang memiliki diversitas mangga cukup tinggi ialah Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan (Bompard dan Schneel, 1997).
Mangga termasuk tumbuhan yang digemari oleh kebanyakan orang, terutama karena buahnya. Hampir semua orang senang mengkonsumsi buah ini. Hanya saja, tidak banyak yang memanfaatkan buah maupun bagian lain dari tumbuhan mangga ini sebagai obat, terutama di Indonesia yang merupakan daerah asal tanaman ini. Padahal potensi obat yang terkandung di dalamnya cukup besar. Menurut Wauthoz, dkk, 2007, ada beberapa negara yang  menggunakan kulit kayu maupun bagian lain dari tanaman mangga sebagai obat-obatan. Negara-negara tersebut antara lain, Brazil, Kuba, Gabon, Senegal, Haiti, Republik Afrika, India dan negara negara lain di Afrika. Data ini menunjukkan

Monday, October 6, 2014

DATA BASE JAMU (bagian 6)

Posted on January 1, 2012 by mahasiswa
Deskripsi Tanaman Sarang Semut
Tumbuhan Sarang Semut merupakan anggota dari Famili Rubiaceae dengan 5 genus dan hanya 2 genus yang berasosiasi dengan semut yaitu Myrmecodia (45 spesies) dan Hydnophytum (26 spesies). Di Sumatra, tumbuhan sarang semut disebut dengan rumah semut, di Jawa dikenal dengan nama Ulek-ulek Polo, di Papua (lokon, suhendep, nongon), di Malaysia (periok hantu, peruntak, sembuku), di Vietnam (ki nan, ki nam gai, ki nam kin). Terdapat dua jenis tumbuhan sarang semut yang mempunyai manfaat sebagai tanaman obat yaitu jenis pertama adalah Myrmecodia dengan umbi berlabirin kecil dan memiliki duri di bagian luar umbi, sedangkan jenis kedua adalah Hydnophytum dengan umbi berlabirin besar dan tidak terdapat duri di bagian luar  umbi. Jenis Myrmecodia pertama dikenali sebagai tanaman obat dengan spesies bernama Myrmecodia pendans. Umbi tanaman ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1823. Umbinya bisa mencapai diameter 25cm dengan tinggi mencapai 45cm (Subroto dan Saputro, 2006).
Klasifikasi dari tumbuhan sarang semut (Hydnophytum formicarum Jack.) adalah sebagai berikut (Plantamor, 2011):
Kingdom    : Plantae
Divisi         : Magnoliophyta
Kelas         : Magnoliopsida
Ordo          : Rubiales
Famili        : Rubiaceae
Genus        : Hydnophytum
Spesies       : Hydnophytum formicarum Jack.
Kandungan Senyawa Aktif dalam Tanaman Sarang Semut
Subroto dan Saputro (2006) menyatakan bahwa kandungan zat berkhasiat dari tumbuhan sarang semut sebagai bahan obat tergantung pada tempat tumbuh dan usia tumbuhan. Tumbuhan sarang semut yang tumbuh liar di hutan mengandung lebih banyak zat aktif daripada yang ditanam di pot sebagai tanaman hias. Beberapa uji menunjukkan bahwa tumbuhan ini mengandung senyawa-senyawa kimia dari golongan flavonoid dan tanin.