Saturday, May 26, 2012

BISA ULAR (part 1)





Pengertian Bisa
Bisa, venom, atau zootoksin (secara harfiah "racun hewan") adalah semua jenis toksin yang yang digunakan oleh beberapa kelompok spesies hewan, untuk keperluan pertahanan dan berburu mangsa. Bisa dibedakan dengan racun dengan definisi bahwa bisa adalah toksin biologis yang disuntikkan untuk menimbulkan efeknya, sedangkan racun adalah toksin biologis yang diserap melalui lapisan epitel (baik dari usus maupun melalui kulit). Hewan-hewan yang memiliki bisa antara lain adalah ular, laba-laba, kalajengking, dan lebah. Bisa ular umumnya mengandung fosfolipase A2, sejenis enzim yang memicu proses lisis pada senyawa fosfolipid, sehingga bersifat toksik terhadap membran sel.
Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus. Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata. Dalam paper ini kami akan menjelaskan tentang bisa ular. Bisa ular tidak hanya terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi merupakan campuran kompleks, terutama protein, yang memiliki aktivitas enzimatik. Bisa ular dapat mengakibatkan orang meninggal oleh karena bisa ular yang bersifat hematotoksik, neurotoksik atau histaminic.

Kategori bisa ular
Bisa ular secara garis besar dapat kita kategorikan dalam dua jenis, yaitu neurotoxin dan hemotoxin. Neurotoxin adalah racun yang melumpuhkan sistem pernafasan dan merusak otak korban. Adapun hemotoxin adalah racun yang merusak sel-sel hingga darah menggumpal dan berujung pada kematian. Bisa ular juga mengandung berbagai enzim berbahaya, namun bisa pula sangat berguna. Sedikitnya terdapat 20 jenis enzim pada bisa ular. Komposisi masing-masing enzim berbeda-beda, tergantung jenis ularnya. Salah satu enzim yang terdapat dalam bisa ular adalah proteinase. Gigitan ular yang mengeluarkan bisa yang mengandung proteinase akan menyebabkan jaringan kulit dan otot si korban mati secara cepat. Tapi, menurut sebuah penelitian di Australia, dalam dosis tertentu enzim proteinase dapat mengobati kanker. Enzim lain yang cukup populer ada pada bisa ular adalah cholin esterase. Enzim ini biasanya menyerang sistem saraf dan membuat otot menjadi kendur. Enzim cholin esterase dapat digunakan untuk mencegah serangan jantung dan stroke. 

Racun
Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan sering dihubungkan dengan pangan atau bahan kimia. Pada kenyataannya bukan hanya pangan atau bahan kimia saja yang dapat menyebabkan keracunan. Di sekeliling kita ada racun alam yang terdapat pada beberapa tumbuhan dan hewan. Salah satunya adalah gigitan ular berbisa yang sering terjadi di daerah tropis dan subtropis. Mengingat masih sering terjadi keracunan akibat gigitan ular maka untuk dapat menambah pengetahuan masyarakat kami menyampaikan informasi mengenai bahaya dan pertolongan terhadap gigitan ular berbisa. Ular merupakan jenis hewan melata yang banyak terdapat di Indonesia. Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. Ular berbisa memiliki sepasang taring pada bagian rahang atas. Pada taring tersebut terdapat saluran bisa untuk menginjeksikan bisa ke dalam tubuh mangsanya secara subkutan atau intramuskular.

Penelitian Tentang Bisa Ular
            Norbert Zimmermann, seorang ahli pengobatan dari Bottrop Jerman, melakukan riset terhadap bisa ular untuk mengobati alergi. Caranya, memasukkan alergen yang ada dalam bisa ular ke dalam tubuh pasien secara bertahap dalam dosis ringan. Lalu, dosisnya akan terus dinaikkan hingga tubuh pasien menciptakan kekebalan atau antibodi terhadap zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuhnya. Cara ini akan meningkatkan kekebalan dalam tubuh. Di Indonesia, belum ada penelitian tentang manfaat serum atau organ ular lainnya bagi pengobatan. Sejauh ini, maraknya pengobatan dengan menggunakan organ ular lebih kepada pengalaman saja. Misalnya, pengobatan yang dilakukan sinse Robert yang buka praktek di Yogyakarta. Sejak umur 8 tahun, dia sudah hidup beradaptasi dengan ular. Sepanjang pengalamannya, ia mengetahui empedu ular kobra punya banyak kegunaan. “Misalnya meredakan panas, membuat kulit menjadi bagus, jantung menjadi kuat, paru-paru menjadi bagus,” ujarnya. Prinsip pengobatan memakai organ ular adalah melawan penyakit dengan menggunakan zat berbahaya. Tapi ada juga yang berpendaat lain. Salah satunya, William Adi Teja, ahli pengobatan di Oetomo Chinese Medical Centre. Menurut master dari Beijing University of Chinese Medicine itu, dalam teori Chinese Medicine, penyakit berbahaya memang bisa disembuhkan dengan racun. “Tetapi jangan ditelan mentah-mentah. Bagaimana racun berbahaya itu diramu sehingga menjadi obat, dan berapa dosisnya, itu yang belum diketahui secara pasti ilmunya,” ujarnya.

Penatalaksanaan Keracunan akibat Gigitan Ular Berbisa
            Efek toksik bisa ular pada saat menggigit mangsanya tergantung pada spesies, ukuran ular, jenis kelamin, usia, dan efisiensi mekanik gigitan (apakah hanya satu atau kedua taring menusuk kulit), serta banyaknya serangan yang terjadi.
            Ular berbisa kebanyakan termasuk dalam famili Colubridae, tetapi pada umumnya bisa yang dihasilkannya bersifat lemah. Contoh ular yang termasuk famili ini adalah ular sapi (Zaocys carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular jali (Ptyas korros), dan ular serasah (Sibynophis geminatus). Ular berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae, Hydropiidae, atau Viperidae. Elapidae memiliki taring pendek dan tegak permanen. Beberapa contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora intestinalis), ular weling (Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan ular king kobra (Ophiophagus hannah). Viperidae memiliki taring panjang yang secara normal dapat dilipat ke bagian rahang atas, tetapi dapat ditegakkan bila sedang menyerang mangsanya. Ada dua subfamili pada Viperidae, yaitu Viperinae dan Crotalinae. Crotalinae memiliki organ untuk mendeteksi mangsa berdarah panas (pit organ), yang terletak di antara lubang hidung dan mata. Beberapa contoh Viperidae adalah ular bandotan (Vipera russelli), ular tanah
(Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris).



Gambar 1. Organ pendeteksi panas (pit organ) pada Crotalinae terletak di antara lubang hidung dan mata.
Bagaimanakah Gigitan Ular Dapat Terjadi?
Korban gigitan ular terutama adalah petani, pekerja perkebunan, nelayan, pawang ular, pemburu, dan penangkap ular. Kebanyakan gigitan ular terjadi ketika orang tidak mengenakan alas kaki atau hanya memakai sandal dan menginjak ular secara tidak sengaja. Gigitan ular juga dapat terjadi pada penghuni rumah, ketika ular memasuki rumah untuk mencari mangsa berupa ular lain, cicak, katak, atau tikus.
Bersambung....

Iklanku :
Tips mengamankan akun facebook dari hakcer plus banjir uang...
atau
Beli produk kesehatan dapat bonus uang..
coba aja klik :

BUMI YANG SEMAKIN PANAS



Bumi kita sudah sangat tua, kurang lebih 4,5 miliar tahun yang lalu bumi kita diciptakan. Dulu bumi menjadi tempat yang nyaman bagi manusia, hewan, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya untuk hidup, tumbuh, dan berkembangbiak. Sesungguhnya Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41 menjelaskan. Yang artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia……”
Allah SWT menciptakan manusia tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjadi khalifah di bumi yang salah satu didalamnya untuk menjaga dan merawat bumi sebagai tempat tinggal mereka.
Masalah yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini adalah semakin naiknya suhu bumi. Menurut ilmuwan suhu bumi rata-rata naik 0,7 derajat celcius dibandingkan 100 tahun silam. Masalah tersebut dikenal dengan sebutan Global Warming atau Pemanasan Global. Sebenarnya apa yang dimaksud Pemanasan Global atau Global Warming? Mungkin banyak orang yang belum mengetahuinya atau bahkan belum menyadari tanda-tanda kalau bumi kita ini sudah semakin panas.
Global Warming terjadi karena Matahari memancarkan energi yang kemudian diserap oleh bumi. Energi yang diserap tersebut dipantulkan kembali dalam bentuk Radiasi Inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Sebagian Inframerah akan tertahan oleh awan dan Gas Rumah kaca untuk dikembalikan ke bumi. Dalam keadaan normal efek rumah kaca sangat bermanfaat yaitu suhu siang dan malam tidak jauh berbeda. Dalam jumlah berlebihan efek rumah kaca menyebabkan Global Warming.
Semakin banyak gas rumah kaca di bumi maka semakin panas pula bumi itu. Dibuktikan juga oleh seorang ilmuwan bernama Joseph Fourler pada tahun 1824 bahwa efek rumah kacalah yang membuat bumi kita menjadi hangat.
Apakah sebenarnya gas rumah kaca sehingga memberikan dampak yang begitu besar terhadap bumi? gas rumah kaca adalah gas yang menimbulkan efek rumah kaca.
Yang termasuk gas rumah kaca adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), uap air (H2O), dan lain-lain. Karbon dioksida dapat terbentuk melalui letusan gunung berapi dan yang paling banyak menghasilkanya adalah manusia. Saat manusia menghembuskan nafas maka keluarlah karbon dioksida. Jumlah yang dihasilkan perharinyapun banyak, bayangkan ada berapa miliar manusia di bumi ini? Itu baru salah satu gasnya, belum yang lain.
Gas lain yang juga menyebabkan Global Warming adalah dinitrogen oksida. Gas ini memang dihasilkan alami oleh tanah dan lautan, tetapi juga dihasilkan oleh pabrik dan kendaraan bermotor. Jika ada perbandingan 2:1 untuk yang tidak memiliki kendaraan bermotor dan yang memiliki kendaraan bermotor. Bayangkan jika ada 6,5 miliar manusia berapa banyak dinitrogen oksida terbuang tiap tahunnya?Lagi-lagi itu adalah perbuatan manusia. Bagaimana bumi ini akan kembali nyaman untuk dihuni seperti dahulu jika manusianya saja semakin banyak.
Satu contoh kasus yang paling parah adalah semakin maraknya penggundulan hutan. Padahal hutan adalah sarana untuk mengurangi karbon dioksida dan melalui bantuan matahari menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk bernafas. Bayangkan jika oksigen semakin berkurang? Manusia akan sulit bernafas, dan jika sudah tidak bisa bernafas lagi manusia akan mati. Sekarang saja oksigen sudah diperjualbelikan dengan harga tinggi. Mungkin beberapa ratus tahun yang akan datang jika kondisi alam semakin buruk kemungkinan oksigen semakin langka.
Tahukah anda bahwa Indonesia adalah penghasil karbon dioksida ke-21 terbesar di dunia. Untuk itu pada tanggal 3-14 Desember 2007 di Bali diadakan Konferensi Internasional yang dihadiri oleh negara-negara anggota PBB, terutama yang peduli terhadap lingkungan. Disana dibahas bagaimana mengurangi gas rumah kaca agar pemanasan global semakin berkurang sedangkan di Kyoto, pada tanggal 12 Desember 1997 diadakan perjanjian yang isinya tidak jauh berbeda dengan Konferensi Internasional di Bali, yaitu mengharuskan bagi negara-negara maju untuk menjadi pelopor untuk mengurangi gas rumah kaca.
Hal apakah yang terjadi jika pemanasan global terus terjadi? Salah satu hal yang terjadi adalah mencairnya es/salju abadi di kutub, baik utara maupun selatan. Terutama di kutub utara karena wilayah inilah yang paling rawan. Akibat mencairnya es tersebut kemungkinan satu abad lagi beruang kutub akan punah dari bumi ini atau bahkan tidak hanya beruang kutub, hewan lainpun dapat pula mengalami yang demikian. Akibat yang paling parah adalah naiknya permukaan air laut sampai 100 cm. Banyak pulau yang akan tenggelam,terutama negara-negara yang terdiri dari kepulauan, akan kehilangan beberapa pulaunya karena tenggelam.
Apalagi negara Belanda yang membendung laut untuk memperluas wilayahnya, kira-kira Belanda akan kehilangan 6% wilayahnya 100 tahun yang akan datang. Dari berbagai akibat yang ada yang paling memprihatinkan jika semua sumber makanan semakin berkurang dari mana manusia akan memperoleh sumber makanan? Karena sebagian lahan pertanian hilang.
Sebagai akibat lainnya dari pemanasan global adalah merebaknya berbagai penyakit seperti malaria. Karena suhu yang semakin hangat maka nyamuk dapat hidup di daerah yang hangat tersebut dan kemungkinan terjadinya penyakit malariapun semakin besar.
Dapatkah semua itu dicegah? Kemungkinan semua itu dapat dicegah dengan cara pemanfaatan energi matahari untuk menggantikan energi alam seperti batu bara, minyak bumi, dan lain-lain. Juga dengan menanam pohon agar jumlah karbon dioksida semakin berkurang, yang ketiga kita harus pola hidup sehat, seperti tidak menggunakan AC (Air Conditioner), botol semprot baik untuk minyak wangi, aerosol, dan lain-lain.

(Sumber : Marapung, A. Muzi. 2008. Pemanasan Global. Solo: Tiga Serangkai)


 
Iklanku :
Ingin kerja sambilan dengan penghasilan jutaan?
atau
Beli produk kesehatan dapat bonus uang..
coba aja klik :