Tuesday, March 5, 2013

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK {bagian 4}


Iklanku :

Ingin kerja sambilan dengan penghasilan bisa sampai jutaan rupiah?

http://KomisiVirtual.com/?id=kangmalik

atau

Beli produk kesehatan dapat bonus uang..

coba aja klik :

http://www.tekanini.com/kangmalik001

 
B. BERBAGAI JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
a. Anak dengan Keterlambatan Perkembangan
...............................................


b.   Anak dengan Keterbelakangan Mental

     American Association on Mental Retardation mendefinisikan anak dengan keterbelakang mental adalah anak-anak yang memiliki fungsi intelektual di bawah rata-rata secara bermakan, terlihat memiliki kesulitan dalam perilaku adaptif yang dimunculkan melalui kesulitan membuat konsep, keterampilan sosial dan praktik perilaku adaptif dan terjadi pada rentang usia perkembangannya yaitu di bawah 18 tahun.
 

1.   Penyebab terjadinya keterbelakangan mental ini terbagi atas:

a.   Saat prenatal, biasanya dikarenakan adanya abnormalitas dari kromosom. Contohnya adalah Down Syndrome, Fragile X Syndrome, Prader-Willi syndrome, Fetal alcohol syndrome, Phenylketonuria,Toxoplasmosis.

b.   Saat Perinatal, biasanya terjadi selama atau seketika setelah anak lahir. Anak yang lahir prematur dengan berat badan sangat kecil, kekurangan oksigen pada waktu lahir, penggunaan alat bantu seperti forcep yang kurang tepat.

c.   Post natal, bisa saja ketika selama kehamilan dan saat kelahiran anak tidak mengalami gangguan apa-apa namun setelah itu anak terjangkit encephalitis, keracunan timbal dan kerusakan otak maka kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya keterbelakangan mental pada anak.

2.   Karakteristik dari anak dengan keterbelakang mental:

a.   Secara kognitif anak tersebut sangat berbeda dengan anak normal, dari penggolongan IQ nya saja mereka dapat dikategorikan sebagai:

Ø  Keterbelakangan mental ringan (IQ= 55 – 69)

Ø  Keterbelakangan mental sedang (IQ = 40 -54)

Ø  Keterbelakangan mental berat (IQ = 25 – 39)

Ø  Keterbelakangan mental sangat berat (IQ = di bawah 25)

Dengan derajat keterbelakang mental yang berbeda itu maka tingkatan dari layanan dukungan buat merekapun menjadi berbeda pula (tabel terlampir). Kemampuan memori, menggeneralisasi, motivasi, bahasa dan keterampilan akademisnya menjadi terbatas

b. Secara sosial, banyak anak dengan keterbelakangan mental mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

c. Tingkah laku adaptifnyapun ada mengalami gangguan terutama dalam hal komunikasi, merawat diri sendiri, keterampilan sosial, kehidupan sehari-hari, menikmati waktu senggang, kesehatan dan keselamatan, kemampuan mengarahkan diri, fungsi akademis, dan keterlibatan dimasyarakat

d. Secara emosional, mereka seringkali terperosok dalam kondisi kesepian, depresi

e. Secara fisik dan medis, biasanya tidak ada kondisi fisik dan medis yang sangat berbeda dengan anak kebanyakan

3. Proses identifikasi anak dengan keterbelakangan mental dilakukan dengan asesmen dari fungsi intelektualnya, tingkah laku adaptif, faktor medis semua ini dilakukan oleh ahlinya dan kemudian diberikan penanganan yang sesuai.

c.   Anak dengan Gangguan Emosional

          Hal-hal yang perlu diketahu pada anak yang mengalami gangguan emosional adalah :

1.   Terjadi   dalam    situasi   yang   diikuti oleh beberapa karakteristik yang

muncul dalam periode tertentu dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari seorang anak seperti:

a.   Ketidak mampuan untuk belajar yang tidak dapat dijelaskan dari faktor intelektual, sensori maupun kesehatan

b.   Ketidakmampuan untuk mempertahankan atau membangun hubungan yang menyenangkan dengan teman sebaya atau dengan guru

c.   Berperilaku tipikal atau memiliki perasaan yang tidak sesuai walau dalam situasi yang normal

d.   Secara umum terlihat depresi atau tidak bahagia

e.   Kecenderungan untuk memunculkan simtom fisik atau ketakutan-ketakutan yang dikaitkan dengan seseorang atau sekolah

2.   Penyebab terjadinya gangguan emosional ini berupa:

a.  Faktor biologis

b. Faktor psikososial, seperti stres yang berkepanjangan, kejadian hidup yang menekan, perlakuan salah pada masa kecil, fakator keluarga

3.   Karakteristik dari anak dengan gangguan emosional adalah:

a.   Secara tingkah laku biasanya mereka tidak berbeda dengan anak kebanyakan. Namun bisa dilihat dari tingkah laku yang terinternalisasikan dan tingkah laku yang dieksternalisasikan.

b.   Secara emosional, biasanya mereka memiliki pengalaman kecemasan yang bersumber dari rasa ketakutan yang berlebihan. Ada depresi yang muncul

c.   Secara sosial, ada hambatan dalam mempertahankan sebuah hubungan dengan orang lain.

d.   Secara kognitif akan memiliki rentang kemampuan dari yang rendah hingga yang tinggi. Namun seringkali gangguan emosinya tersebut menghambat hasil pembelajarannya.

4. Proses identifikasi anak dengan gangguan emosi dilakukan dengan asesmen formal dan asesmen di dalam kelas apabila anak tersebut sudah masuk sekolah. Penanganan dilakukan oleh ahlinya.

d.   Anak dengan Gangguan Spektrum Autis

       Akhir-akhir ini jumlah anak yang mengalami gangguan spektrum autis mengalami peningkatan. Perlu diketahui beberapa hal tentang gangguan ini yaitu :

1. Anak dengan gangguan spektrum autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang dimanifestasikan dalam hambatan komunikasi verbal dan non verbal, masalah pada interaksi sosial, gerakan yang berulang dan stereotip, sangat terganggu dengan perubahan dari suatu rutinitas, memberikan respon yang yang tidak sesuai terhadap rangsangan sensoris.

    2.  Penyebab terjadinya gangguan spektrum autis dapat dibagi menjadi:

a.   Faktor biologis, seperti DNA, multi genetik

b.   Faktor otak, adanya abnormalitas di otak kecil  yang mengendalikan koordinasi motorik, kognisi dan keseimbangan. Bersamaan dengan itu juga ada ditemukan abnormalitas di lobus frontal (yang mengendalikan fungsi sosial dan kognitif) dan lobus temporal (untuk memahami ekspresi muka, tanda-tanda sosial dan memori).

c.   Faktor lingkungan, seperti penelantaran dari keluarga ternyata dapat memperburuk kondisi dari anak dengan gangguan spektrum autis.

d.   Faktor imunisasi, dikatakan bahwa ada beberapa kejadian dimana anak mendapatkan imunisasi MMR menjadi autis.

3. Karakteristik dari anak dengan gangguan spektrum autistik adalah:

a. Secara kognitif, mereka dapat memiliki kecerdasan dari tingkat yang rendah hingga di atas rata-rata.

Mereka memiliki ”rote memory” dimana ia akan dapat dengan mudah mengingat segala sesuatu tanpa memaknainya, sehingga ia akan dapat mengeluarkan kembali ingatan tersebut dalam konteks yang tidak tepat.

Di dalam memecahkan suatu masalah mereka cenderung hanya menggunakan satu strategi saja, sehingga tingkat keberhasilannya sangat rendah terutama untuk hal-hal yang kompleks dan abstrak.

Sangat sulit untuk memotivasi seorang anak dengan gangguan spektrum autistik hal ini dikarenakan mereka terfokus pada satu hal saja.

b. Secara sosial emosional, mereka mengalami kesulitan karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, intonasi bicara yang sangat datar, mengulang kata-kata yang tidak bermakna, dan berkomunikasi tanpa mengindahkan konteks sosial.

c. Secara perilaku, anak cenderung hanya memperhatikan atau merespon pada satu stimulus saja yang bermakna bagi dirinya sendiri dan tidak mengindahkan hal lain di sekitarnya.

Mereka sering memunculkan tingkahlaku yang sama dan dilakukan berulang-ulang seperti mengepakkan tangan, bertepuk tangan, menggoyangkan badan. Sangat sulit bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru atau berubah-ubah.

Mengalami kesulitan pada aspek sensoris seperti auditory dan visual.

4. Proses identifikasi, apabila ditemukan anak dengan ciri-ciri seperti yang telah diuraikan di atas, maka orangtua atau guru harus segera membawa ke ahlinya agar mendapat penanganan yang lebih tepat. Semakin dini penanganannya maka semakin besar kemungkinan anak untuk tumbuh dan bekembang seperti anak normal pada umumnya.

No comments:

Post a Comment