Sunday, March 3, 2013

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK {bagian 3}


Iklanku :

Ingin kerja sambilan dengan penghasilan bisa sampai jutaan rupiah?

http://KomisiVirtual.com/?id=kangmalik

atau

Beli produk kesehatan dapat bonus uang..

coba aja klik :

http://www.tekanini.com/kangmalik001

 

 
B. BERBAGAI JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
     a.  Anak dengan Keterlambatan Perkembangan
1.      Kehilangan Kemampuan Pendengaran

2.      Kehilangan Kemampuan Penglihatan
..............

3   Gangguan Berbicara dan Berbahasa

   Menurut IDEA (Individuals with Disabilities Education Act) tahun 1997, gangguan ini mengacu pada gangguan komunikasi seperti gagap, gangguan artikulasi, gangguan bahasa, atau gangguan suara yang berdampak pada hasil pembelajaran seorang anak.

 
a. Berbahasa dapat diaplikasikan dalam dua hal yaitu:

1) Bahasa ekspresif mengacu pada kemampuan individu di dalam menghasilkan suatu bahasa. Misalkan: menyampaikan isi pikiran atau pendapat secara verbal.

2) Bahasa reseptif mengacu pada kemampuan individu memahami suatu bahasa. Misalkan: orang yang mengerti bahasa asing tetapi ia tidak dapat berbicara dalam bahasa asing tersebut.

b. Penyebab terjadinya gangguan bicara dan berbahasa pada anak dapat dilihat dari berbagai faktor yaitu:

1) Secara biologis, dimana masalah itu berkaitan dengan susunan saraf pusat atau struktur dan fungsi dari sistem lain di dalam tubuh. Misalkan: langit-langit mulut yang tidak sempurna, lidah yang tebal dan pendek.

2) Lingkungan, dimana anak yang mengalami gangguan ini dikarena mendapat infeksi telinga yang berulang yang berakibat mengganggu pendengarannya atau sampai membuat ketulian. Hal lain yang juga berkontribusi adalah penelantaran dan perlakuan salah pada anak.

c. Karakteristik dari anak dengan gangguan bicara dan berbahasa

1) Secara kognitif mereka dapat berada dalam rentang tingkat kemampuan kognisi yang tinggi hingga yang terbelakang.

2) Secara akademik, pada anak usia dini yang dituntut untuk dapat mengekspresikan hasil pikirannya secara verbal maka anak akan mengalami kesulitan. Di samping itu  anak harus memahami bahasa tersebut yang kemudian digunakan untuk belajar membaca dan menulis. Diketahui bahwa keterampilan berbicara dan berbahasa itu akan dipergunakan dalam setiap aspek kegiatan sekolah, misalnya untuk mempelajari subyek matematika, seni, dan kesadaran lingkungan bahkan saat istirahatpun akan memerlukan bahasa.

3) Secara sosial emosional, biasanya anak akan memiliki masalah juga. Terutama berkaitan dengan konsep diri yang dimilikinya. Apabila lingkungan banyak yang mencemoohkan dirinya maka  anak cenderung akan memiliki konsep diri yang negatif. Ketika anak mengalami kesulitan dalam menyampaikan isi pikirannya karena penggunaan artikulasi yang salah, menyebabkan orang lain tidak dapat memahaminya. Keadaan ini membuat anak merasa terisolasi oleh lingkungannya.

4) Tingkah lakunya seringkali tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Misalnya anak batita yang kesulitan bicara ketika keinginannya tidak dapat dimengerti oleh orang lain maka batita tersebut akan berperilaku agresif dan tingkah laku ini tidak dapat diterima oleh lingkungannya. Dengan bertambahnya usia dari anak dengan gangguan bicara dan berbahasa ini apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat maka ia akan cenderung untuk menjadi lebih bermasalah dalam berperilaku.

 

Apabila orangtua atau guru menemukan anak dengan gangguan bicara dan berbahasa maka mereka harus segera merujuk kepada ahlinya yaitu dokter Telinga Hidung dan Tenggorokan dan mengikuti terapi yang disarankan.

 

4. Gangguan pada Fisik

 

Gangguan ini biasanya berpengaruh pada gerakan kasar dan gerakan halus dari seseorang. Gangguan ini bisa bersifat ringan hingga yang berat.

 

a.   Penyebab dari gangguan fisik ini dapat dibagi menjadi tiga yaitu:

1)   Kelainan bawaan yang menyebabkan terjadinya telapak kaki rata, jumlah anggota tubuh yang tidak lengkap atau berlebih.

2)   Penyakit seperti poliomyelitis, TBC tulang dll

3)   Penyebab lain seperti gangguan neurologis dan lingkungan, yang menyebabkan cerebral palsy, spina bifida, amputasi, retak atau terbakar)

 

Cerebral palsy merupakan gangguan pada fisik yang cukup banyak dikenal orang.

Jenis-jenis dari Cerebral Palsy adalah:

Ø  Spastic cerebral palsy, dimana kondisi dari otot-otot anak tersebut adalah sangat kaku sehingga gerakan menjadi tidak wajar

Ø  Athetoid cerebral palsy, dimana anak tidak mampu untuk mengendalikan gerakan dari otot-ototnya sehingga seringkali ia akan melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu tanpa mampu mengendalikannya.

Ø  Ataxic cerebral palsy, merupakan gangguan yang jarang dimana keseimbangan dan koordinasi motoriknya menjadi terganggu.

Ø  Gabungan dari macam-macam cerebral palsy ini disebut mixed cerebral palsy.

b.   Karakteristik anak dengan gangguan fisik.

1)   Secara kognitif dan akademik, anak dengan gangguan fisik akan memiliki fungsi kognitif dengan rentang dari yang rendah hingga yang tinggi. Sehingga anak-anak yang mengalami gangguan fisik namun memiliki kemampuan kognitif yang baik maka ia akan dapat berkembang dengan baik, asalkan gangguan fisiknya dapat ditangani dengan baik. Misalkan anak yang tidak memiliki kaki yang lengkap namun pintar ia dapat masuk sekolah dimana sekolah itu memberikan fasilitas yang cukup sehingga anak tersebut tidak memperoleh kesulitan mengakses kelas dan ruang-ruang lainnya.

2)   Secara perilaku, anak dapat terganggu apabila gangguan yang dimilikinya itu menghambat gerakan, interaksi dengan orang lain. Sehingga anak perlu mendapat keterampilan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan dan diperlukannya

3)   Secara emosional, pada umumnya anak dengan gangguan fisik ini akan memiliki konsep diri yang rendah. Oleh karena itu harus terus didukung dan dikembangkan konsep diri yang positif pada anak tersebut

4)   Secara sosial, anak dengan gangguan fisik sangat memerlukan bantuan orang lain untuk dapat berinteraksi dengan teman sebayanya. Mereka memerlukan akses yang sesuai sehingga gangguan fisik yang dimilikinya tidak terhambat.

5)   Secara fisik dan medis, anak dengan gangguan ini akan memiliki kondisi fisik dan medis yang berbeda dengan anak secara umum dan memerlukan perhatian yang khusus.

c.   Cara mengidentifikasi anak dengan gangguan fisik adalah dengan melakukan asesmen terhadap kondisi medis dan fungsi fisiknya. Selain itu perlu juga dilakukan asesment terhadap fungsi intelektual, prestasi akademik, bahasa dan area-area lain yang terkait. Semua asesmen ini dilakukan oleh ahlinya.

 

Apabila telah diketahui kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh anak dengan gangguan fisik ini maka penanganan harus segera dilakukan sejak dini dan menyeluruh, agar anak dapat berkembang secara optimal.

No comments:

Post a Comment