Friday, March 8, 2013

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK {bagian akhir}


Iklanku :

Ingin kerja sambilan dengan penghasilan bisa sampai jutaan rupiah?


atau

Beli produk kesehatan dapat bonus uang..

coba aja klik :



 

e.   Anak dengan Kesulitan Belajar
 
1.      Menurut IDEA dikatakan anak dengan kesulitan belajar adalah anak yang mengalami gangguan di satu atau lebih proses dasar psikologi termasuk, memahami dan menggunakan bahasa (verbal dan tulisan), yang berdampak pada kemampuan mendengar, berfikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja dan kalkulasi matematika. Termasuk juga gangguan persepsi, kerusakan otak, fungsi minimal otak, disleksia, dan aphasia. Gangguan-gangguan seperti kehilangan penglihatan, pendengaran, motorik, keterbelakangan mental, gangguan emosi atau hambatan secara sosial, ekonomi, dan budaya tidaklah termasuk dalam kategori kesulitan belajar.

2.      Penyebab terjadinya kesulitan belajar pada seorang anak adalah:

a.      Faktor fisiologis, seperti kerusakan otak, keturunan, dan ketidak seimbangan proses kimia dalam tubuh

b.      Faktor lingkungan, gizi yang buruk, keracunan, kemiskinan

c.      Karakteristik dari anak dengan kesulitan belajar mencakup:

1) Secara kognitif, berkaitan dengan atensi, persepsi, gangguan memori, proses informasinya.

2) Secara akademik, bermasalah pada kegiatan membaca, menulis, matematika dan berbahasa verbal

3) Secara sosial dan emosional, umumnya memiliki harga diri yang rendah karena dianggap sebagai anak yang tidak mampu. Dengan kesulitannya ini anak menjadi mengganggap dirinya tidak mampu untuk melakukan sesuatu

4) Secara perilaku, mereka menjadi sulit untuk mengendalikan gerak tubuhnya, tidak mau duduk diam, berbicara terus, melakukan agresi fisik dan verbal

       d. Proses identifikasi, apabila ditemukan anak dengan ciri-ciri seperti yang telah diuraikan di atas, maka orangtua atau guru harus segera membawa ke ahlinya agar mendapat penanganan yang lebih tepat. Semakin dini penanganannya maka semakin besar kemungkinan anak untuk tumbuh dan bekembang seperti anak normal pada umumnya.

f.   Anak Berbakat

1.  Definisi menurut IDEA adalah anak yang memiliki kemampuan yang melebihi dari kemampuan orang lain pada umumnya dan mampu untuk menunjukkan hasil kerja yang sangat tinggi. Keberbakatan ini dapat dilihat dari berbagai area seperti: kemampuan intelektual secara umum, akademis yang khusus, berfikir kreatif, kepemimpinan, seni, dan psikomotor. Seorang anak dapat dikatakan berbakat apabila ia memiliki kemampuan yang diatas rata-rata, memiliki komitment terhadap tugas yang tinggi dan juga kreatif.

 2.   Karakteristik yang dimiliki oleh anak berbakat adalah:

a. Secara kognitif. Secara umum, anak-anak berbakat memiliki kemampuan dalam memanipulasi dan memahami simbol abstrak, konsentrasi dan ingatan yang baik, perkembangan bahasa yang lebih awal dari pada anak-anak seusianya, rasa ingin tahu yang tinggi, minat yang beragam, lebih suka belajar dan bekerja secara mandiri, serta memunculkan ide-ide yang original

b.   Secara akademis, mereka sangat termotivasi untuk belajar di area-area dimana menjadi minat mereka. Namun mereka bisa kehilangan motivasinya apabila dihadapkan pada area yang tidak mereka minati

c.  Secara sosial emosional, mereka terlihat sebagai anak yang idealis, perfeksionis dan kepekaan terhadap rasa keadilan, peka. Selalu terlihat bersemangat, memiliki komitmen yang tinggi, dan peka terhadap seni.

3.  Untuk mengetahui keberbakatan seorang anak maka ia harus mengikuti serangkaian asesmen yang dilakukan oleh psikolog, dan apabila anak tersebut memang dikategorikan sebagai anak berbakat maka ia harus memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya agar dapat berkembang dengan optimal.
 
Kesimpulan :
   MEMAHAMI PENDIDIKAN INKLUSI BAGI ANAK DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS

Dengan memahami bahwa semakin banyak anak berkebutuhan khusus yang memerlukan penanganan yang tepat dan menyeluruh maka program inklusi di sekolah-sekolah untuk perlu ditingkatkan.

Program inklusi di sekolah umum, bukanlah sekedar program dimana sekolah memberikan kesempatan pada anak-anak berkebutuhan khusus untuk bersekolah bersama namun lebih jauh lagi.

Ketika suatu sekolah menerapkan program inklusi maka sekolah tersebut haruslah mempersiapkan beberapa hal seperti: lingkungan yang sangat mendukung, materi-materi untuk beradaptasi, aktifitas-aktifitas yang disederhanakan, peralatan untuk mempermudah mereka beradaptasi, dukungan dan kesiapan untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus dari teman sebayanya, dukungan tidak langsung (pemberian waktu yang lebih lama, pemberian kesempatan yang lebih banyak dll)

Selain itu sekolah dan orangtua juga mempersiapkan layanan-layanan yang dapat membantu perkembangan potensi anak seperti penyediaan terapis okupasi, terapis wicara, fisioterapis.

Yang tidak boleh dilupakan adalah mempersiapkan orangtua dan anak-anak yang normal di sekolah tersebut untuk dapat menerima kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus.

Program inklusi ini selain memberikan keuntungan bagi anak berkebutuhan khusus juga memberikan keuntungan bagi teman-teman sebayanya (mereka lebih menghargai keragaman orang, dapat memberikan bantuan, menumbuhkan hubungan yang saling mengasihi), bagi guru (lebih memahami keragaman dari anak didiknya, memperdalam pengetahuan mengenai anak berkebutuhan khusus secara profesional, dan ada kepuasan batin), bagi keluarga (mereka merasa bahwa anaknya diterima dan menjadi bagian dari masyarakat)

          Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda dengan anak secara normal. Keberadaan mereka yang semakin banyak tentunya memerlukan penanganan yang tepat. Setiap pendidik anak usia dini tentunya harus memiliki wawasan yang cukup berkaitan dengan anak berkebutuhan khusus.

Adapun yang termasuk anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami keterlambatan perkembangan, keterbelakangan mental, gangguan emosional, gangguan spektrum autis, kesulitan belajar, dan anak berbakat. Agar anak berkebutuhan khusus dapat berkembang dengan optimal salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan mengikuti program inklusi di sekolah normal.

Program inklusi adalah program yang sangat terencana dan dapat dilakukan oleh sebuah sekolah umum untuk memberikan peluang bagi anak berkebutuhan khusus berinteraksi dan berkembang dengan optimal.


DAFTAR PUSTAKA

 

      Friend, Marilyn. Special Education Contemporary Perspectives for School Professionals. Boston: Pearson Education, Inc. 2005

      Gould,Patti and Sullivan, Joyce. The Inclusive Classroom. Beltsville: Gryphon House, Inc. 1999

      Feeney, Stephanie et all. Who Am I in the Lives of Children? Seventh Ed. New Jersey: Pearson Merrill Prentice Hal. 2006

Tuesday, March 5, 2013

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK {bagian 4}


Iklanku :

Ingin kerja sambilan dengan penghasilan bisa sampai jutaan rupiah?

http://KomisiVirtual.com/?id=kangmalik

atau

Beli produk kesehatan dapat bonus uang..

coba aja klik :

http://www.tekanini.com/kangmalik001

 
B. BERBAGAI JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
a. Anak dengan Keterlambatan Perkembangan
...............................................


b.   Anak dengan Keterbelakangan Mental

     American Association on Mental Retardation mendefinisikan anak dengan keterbelakang mental adalah anak-anak yang memiliki fungsi intelektual di bawah rata-rata secara bermakan, terlihat memiliki kesulitan dalam perilaku adaptif yang dimunculkan melalui kesulitan membuat konsep, keterampilan sosial dan praktik perilaku adaptif dan terjadi pada rentang usia perkembangannya yaitu di bawah 18 tahun.
 

1.   Penyebab terjadinya keterbelakangan mental ini terbagi atas:

a.   Saat prenatal, biasanya dikarenakan adanya abnormalitas dari kromosom. Contohnya adalah Down Syndrome, Fragile X Syndrome, Prader-Willi syndrome, Fetal alcohol syndrome, Phenylketonuria,Toxoplasmosis.

b.   Saat Perinatal, biasanya terjadi selama atau seketika setelah anak lahir. Anak yang lahir prematur dengan berat badan sangat kecil, kekurangan oksigen pada waktu lahir, penggunaan alat bantu seperti forcep yang kurang tepat.

c.   Post natal, bisa saja ketika selama kehamilan dan saat kelahiran anak tidak mengalami gangguan apa-apa namun setelah itu anak terjangkit encephalitis, keracunan timbal dan kerusakan otak maka kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya keterbelakangan mental pada anak.

2.   Karakteristik dari anak dengan keterbelakang mental:

a.   Secara kognitif anak tersebut sangat berbeda dengan anak normal, dari penggolongan IQ nya saja mereka dapat dikategorikan sebagai:

Ø  Keterbelakangan mental ringan (IQ= 55 – 69)

Ø  Keterbelakangan mental sedang (IQ = 40 -54)

Ø  Keterbelakangan mental berat (IQ = 25 – 39)

Ø  Keterbelakangan mental sangat berat (IQ = di bawah 25)

Dengan derajat keterbelakang mental yang berbeda itu maka tingkatan dari layanan dukungan buat merekapun menjadi berbeda pula (tabel terlampir). Kemampuan memori, menggeneralisasi, motivasi, bahasa dan keterampilan akademisnya menjadi terbatas

b. Secara sosial, banyak anak dengan keterbelakangan mental mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

c. Tingkah laku adaptifnyapun ada mengalami gangguan terutama dalam hal komunikasi, merawat diri sendiri, keterampilan sosial, kehidupan sehari-hari, menikmati waktu senggang, kesehatan dan keselamatan, kemampuan mengarahkan diri, fungsi akademis, dan keterlibatan dimasyarakat

d. Secara emosional, mereka seringkali terperosok dalam kondisi kesepian, depresi

e. Secara fisik dan medis, biasanya tidak ada kondisi fisik dan medis yang sangat berbeda dengan anak kebanyakan

3. Proses identifikasi anak dengan keterbelakangan mental dilakukan dengan asesmen dari fungsi intelektualnya, tingkah laku adaptif, faktor medis semua ini dilakukan oleh ahlinya dan kemudian diberikan penanganan yang sesuai.

c.   Anak dengan Gangguan Emosional

          Hal-hal yang perlu diketahu pada anak yang mengalami gangguan emosional adalah :

1.   Terjadi   dalam    situasi   yang   diikuti oleh beberapa karakteristik yang

muncul dalam periode tertentu dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari seorang anak seperti:

a.   Ketidak mampuan untuk belajar yang tidak dapat dijelaskan dari faktor intelektual, sensori maupun kesehatan

b.   Ketidakmampuan untuk mempertahankan atau membangun hubungan yang menyenangkan dengan teman sebaya atau dengan guru

c.   Berperilaku tipikal atau memiliki perasaan yang tidak sesuai walau dalam situasi yang normal

d.   Secara umum terlihat depresi atau tidak bahagia

e.   Kecenderungan untuk memunculkan simtom fisik atau ketakutan-ketakutan yang dikaitkan dengan seseorang atau sekolah

2.   Penyebab terjadinya gangguan emosional ini berupa:

a.  Faktor biologis

b. Faktor psikososial, seperti stres yang berkepanjangan, kejadian hidup yang menekan, perlakuan salah pada masa kecil, fakator keluarga

3.   Karakteristik dari anak dengan gangguan emosional adalah:

a.   Secara tingkah laku biasanya mereka tidak berbeda dengan anak kebanyakan. Namun bisa dilihat dari tingkah laku yang terinternalisasikan dan tingkah laku yang dieksternalisasikan.

b.   Secara emosional, biasanya mereka memiliki pengalaman kecemasan yang bersumber dari rasa ketakutan yang berlebihan. Ada depresi yang muncul

c.   Secara sosial, ada hambatan dalam mempertahankan sebuah hubungan dengan orang lain.

d.   Secara kognitif akan memiliki rentang kemampuan dari yang rendah hingga yang tinggi. Namun seringkali gangguan emosinya tersebut menghambat hasil pembelajarannya.

4. Proses identifikasi anak dengan gangguan emosi dilakukan dengan asesmen formal dan asesmen di dalam kelas apabila anak tersebut sudah masuk sekolah. Penanganan dilakukan oleh ahlinya.

d.   Anak dengan Gangguan Spektrum Autis

       Akhir-akhir ini jumlah anak yang mengalami gangguan spektrum autis mengalami peningkatan. Perlu diketahui beberapa hal tentang gangguan ini yaitu :

1. Anak dengan gangguan spektrum autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang dimanifestasikan dalam hambatan komunikasi verbal dan non verbal, masalah pada interaksi sosial, gerakan yang berulang dan stereotip, sangat terganggu dengan perubahan dari suatu rutinitas, memberikan respon yang yang tidak sesuai terhadap rangsangan sensoris.

    2.  Penyebab terjadinya gangguan spektrum autis dapat dibagi menjadi:

a.   Faktor biologis, seperti DNA, multi genetik

b.   Faktor otak, adanya abnormalitas di otak kecil  yang mengendalikan koordinasi motorik, kognisi dan keseimbangan. Bersamaan dengan itu juga ada ditemukan abnormalitas di lobus frontal (yang mengendalikan fungsi sosial dan kognitif) dan lobus temporal (untuk memahami ekspresi muka, tanda-tanda sosial dan memori).

c.   Faktor lingkungan, seperti penelantaran dari keluarga ternyata dapat memperburuk kondisi dari anak dengan gangguan spektrum autis.

d.   Faktor imunisasi, dikatakan bahwa ada beberapa kejadian dimana anak mendapatkan imunisasi MMR menjadi autis.

3. Karakteristik dari anak dengan gangguan spektrum autistik adalah:

a. Secara kognitif, mereka dapat memiliki kecerdasan dari tingkat yang rendah hingga di atas rata-rata.

Mereka memiliki ”rote memory” dimana ia akan dapat dengan mudah mengingat segala sesuatu tanpa memaknainya, sehingga ia akan dapat mengeluarkan kembali ingatan tersebut dalam konteks yang tidak tepat.

Di dalam memecahkan suatu masalah mereka cenderung hanya menggunakan satu strategi saja, sehingga tingkat keberhasilannya sangat rendah terutama untuk hal-hal yang kompleks dan abstrak.

Sangat sulit untuk memotivasi seorang anak dengan gangguan spektrum autistik hal ini dikarenakan mereka terfokus pada satu hal saja.

b. Secara sosial emosional, mereka mengalami kesulitan karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, intonasi bicara yang sangat datar, mengulang kata-kata yang tidak bermakna, dan berkomunikasi tanpa mengindahkan konteks sosial.

c. Secara perilaku, anak cenderung hanya memperhatikan atau merespon pada satu stimulus saja yang bermakna bagi dirinya sendiri dan tidak mengindahkan hal lain di sekitarnya.

Mereka sering memunculkan tingkahlaku yang sama dan dilakukan berulang-ulang seperti mengepakkan tangan, bertepuk tangan, menggoyangkan badan. Sangat sulit bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru atau berubah-ubah.

Mengalami kesulitan pada aspek sensoris seperti auditory dan visual.

4. Proses identifikasi, apabila ditemukan anak dengan ciri-ciri seperti yang telah diuraikan di atas, maka orangtua atau guru harus segera membawa ke ahlinya agar mendapat penanganan yang lebih tepat. Semakin dini penanganannya maka semakin besar kemungkinan anak untuk tumbuh dan bekembang seperti anak normal pada umumnya.

Sunday, March 3, 2013

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK {bagian 3}


Iklanku :

Ingin kerja sambilan dengan penghasilan bisa sampai jutaan rupiah?

http://KomisiVirtual.com/?id=kangmalik

atau

Beli produk kesehatan dapat bonus uang..

coba aja klik :

http://www.tekanini.com/kangmalik001

 

 
B. BERBAGAI JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
     a.  Anak dengan Keterlambatan Perkembangan
1.      Kehilangan Kemampuan Pendengaran

2.      Kehilangan Kemampuan Penglihatan
..............

3   Gangguan Berbicara dan Berbahasa

   Menurut IDEA (Individuals with Disabilities Education Act) tahun 1997, gangguan ini mengacu pada gangguan komunikasi seperti gagap, gangguan artikulasi, gangguan bahasa, atau gangguan suara yang berdampak pada hasil pembelajaran seorang anak.

 
a. Berbahasa dapat diaplikasikan dalam dua hal yaitu:

1) Bahasa ekspresif mengacu pada kemampuan individu di dalam menghasilkan suatu bahasa. Misalkan: menyampaikan isi pikiran atau pendapat secara verbal.

2) Bahasa reseptif mengacu pada kemampuan individu memahami suatu bahasa. Misalkan: orang yang mengerti bahasa asing tetapi ia tidak dapat berbicara dalam bahasa asing tersebut.

b. Penyebab terjadinya gangguan bicara dan berbahasa pada anak dapat dilihat dari berbagai faktor yaitu:

1) Secara biologis, dimana masalah itu berkaitan dengan susunan saraf pusat atau struktur dan fungsi dari sistem lain di dalam tubuh. Misalkan: langit-langit mulut yang tidak sempurna, lidah yang tebal dan pendek.

2) Lingkungan, dimana anak yang mengalami gangguan ini dikarena mendapat infeksi telinga yang berulang yang berakibat mengganggu pendengarannya atau sampai membuat ketulian. Hal lain yang juga berkontribusi adalah penelantaran dan perlakuan salah pada anak.

c. Karakteristik dari anak dengan gangguan bicara dan berbahasa

1) Secara kognitif mereka dapat berada dalam rentang tingkat kemampuan kognisi yang tinggi hingga yang terbelakang.

2) Secara akademik, pada anak usia dini yang dituntut untuk dapat mengekspresikan hasil pikirannya secara verbal maka anak akan mengalami kesulitan. Di samping itu  anak harus memahami bahasa tersebut yang kemudian digunakan untuk belajar membaca dan menulis. Diketahui bahwa keterampilan berbicara dan berbahasa itu akan dipergunakan dalam setiap aspek kegiatan sekolah, misalnya untuk mempelajari subyek matematika, seni, dan kesadaran lingkungan bahkan saat istirahatpun akan memerlukan bahasa.

3) Secara sosial emosional, biasanya anak akan memiliki masalah juga. Terutama berkaitan dengan konsep diri yang dimilikinya. Apabila lingkungan banyak yang mencemoohkan dirinya maka  anak cenderung akan memiliki konsep diri yang negatif. Ketika anak mengalami kesulitan dalam menyampaikan isi pikirannya karena penggunaan artikulasi yang salah, menyebabkan orang lain tidak dapat memahaminya. Keadaan ini membuat anak merasa terisolasi oleh lingkungannya.

4) Tingkah lakunya seringkali tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Misalnya anak batita yang kesulitan bicara ketika keinginannya tidak dapat dimengerti oleh orang lain maka batita tersebut akan berperilaku agresif dan tingkah laku ini tidak dapat diterima oleh lingkungannya. Dengan bertambahnya usia dari anak dengan gangguan bicara dan berbahasa ini apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat maka ia akan cenderung untuk menjadi lebih bermasalah dalam berperilaku.

 

Apabila orangtua atau guru menemukan anak dengan gangguan bicara dan berbahasa maka mereka harus segera merujuk kepada ahlinya yaitu dokter Telinga Hidung dan Tenggorokan dan mengikuti terapi yang disarankan.

 

4. Gangguan pada Fisik

 

Gangguan ini biasanya berpengaruh pada gerakan kasar dan gerakan halus dari seseorang. Gangguan ini bisa bersifat ringan hingga yang berat.

 

a.   Penyebab dari gangguan fisik ini dapat dibagi menjadi tiga yaitu:

1)   Kelainan bawaan yang menyebabkan terjadinya telapak kaki rata, jumlah anggota tubuh yang tidak lengkap atau berlebih.

2)   Penyakit seperti poliomyelitis, TBC tulang dll

3)   Penyebab lain seperti gangguan neurologis dan lingkungan, yang menyebabkan cerebral palsy, spina bifida, amputasi, retak atau terbakar)

 

Cerebral palsy merupakan gangguan pada fisik yang cukup banyak dikenal orang.

Jenis-jenis dari Cerebral Palsy adalah:

Ø  Spastic cerebral palsy, dimana kondisi dari otot-otot anak tersebut adalah sangat kaku sehingga gerakan menjadi tidak wajar

Ø  Athetoid cerebral palsy, dimana anak tidak mampu untuk mengendalikan gerakan dari otot-ototnya sehingga seringkali ia akan melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu tanpa mampu mengendalikannya.

Ø  Ataxic cerebral palsy, merupakan gangguan yang jarang dimana keseimbangan dan koordinasi motoriknya menjadi terganggu.

Ø  Gabungan dari macam-macam cerebral palsy ini disebut mixed cerebral palsy.

b.   Karakteristik anak dengan gangguan fisik.

1)   Secara kognitif dan akademik, anak dengan gangguan fisik akan memiliki fungsi kognitif dengan rentang dari yang rendah hingga yang tinggi. Sehingga anak-anak yang mengalami gangguan fisik namun memiliki kemampuan kognitif yang baik maka ia akan dapat berkembang dengan baik, asalkan gangguan fisiknya dapat ditangani dengan baik. Misalkan anak yang tidak memiliki kaki yang lengkap namun pintar ia dapat masuk sekolah dimana sekolah itu memberikan fasilitas yang cukup sehingga anak tersebut tidak memperoleh kesulitan mengakses kelas dan ruang-ruang lainnya.

2)   Secara perilaku, anak dapat terganggu apabila gangguan yang dimilikinya itu menghambat gerakan, interaksi dengan orang lain. Sehingga anak perlu mendapat keterampilan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan dan diperlukannya

3)   Secara emosional, pada umumnya anak dengan gangguan fisik ini akan memiliki konsep diri yang rendah. Oleh karena itu harus terus didukung dan dikembangkan konsep diri yang positif pada anak tersebut

4)   Secara sosial, anak dengan gangguan fisik sangat memerlukan bantuan orang lain untuk dapat berinteraksi dengan teman sebayanya. Mereka memerlukan akses yang sesuai sehingga gangguan fisik yang dimilikinya tidak terhambat.

5)   Secara fisik dan medis, anak dengan gangguan ini akan memiliki kondisi fisik dan medis yang berbeda dengan anak secara umum dan memerlukan perhatian yang khusus.

c.   Cara mengidentifikasi anak dengan gangguan fisik adalah dengan melakukan asesmen terhadap kondisi medis dan fungsi fisiknya. Selain itu perlu juga dilakukan asesment terhadap fungsi intelektual, prestasi akademik, bahasa dan area-area lain yang terkait. Semua asesmen ini dilakukan oleh ahlinya.

 

Apabila telah diketahui kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh anak dengan gangguan fisik ini maka penanganan harus segera dilakukan sejak dini dan menyeluruh, agar anak dapat berkembang secara optimal.